• Blog Stats

    • 133,309 hits
  • Masukkan email anda dan dapatkan informasi tentang lowongan kerja di Bali setiap harinya.
    Ayo...buruan gabung!!

    Join 480 other followers

Ekonomi Bali Pertumbuhan Tinggi, Pemerataan Rendah

Bali – Pertumbuhan ekonomi Bali yang ditargetkan mencapai 6,3 persen pada 2011 masih belum dinikmati krama Bali. Berdasarkan jajak pendapat Bali Post, Senin (27/6) kemarin, mencatat 55 persen responden menilai krama Bali cenderung sebagai pendukung pertumbuhan laju investasi. Hanya 32 persen responden yang menyatakan pertumbuhan ekonomi Bali telah dinikmati krama Bali. Bagaimana pendapat pakar dan pengamat tentang kecenderungan tersebut?
SEJUMLAH pakar ekonomi Bali menilai pemerintah belum mampu menumbuhkan ekonomi berkeadilan yang dapat dinikmati semua golongan. Hasil-hasil pembangunan belum mampu menyejahterakan semua kalangan. Apa yang dilakukan pemerintah belum sesuai rencana. Pemerintah baru sekadar memberikan mimpi-mimpi kepada masyarakat.
Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Warmadewa (FE Unwar) Drs. I Wayan Arjana, M.M. mengatakan jika ketimpangan tersebut tidak diatasi, kesenjangan ekonomi akan berujung pada kesenjangan sosial. ”Ini masalah besar sekaligus tantangan pemerintah sampai beberapa tahun ke depan. Kondisi ini bisa diatasi jika pemerintah, pengusaha, dan masyarakat bersinergi membangun Bali dengan bertumpu pada sumber daya ekonomi domestik,” terangnya.
Rektor Undiknas Denpasar Prof. Dr. Gede Sri Darma, S.T., M.M. menyatakan pemerintah harus turut campur dalam setiap kebijakan yang dikeluarkan guna menentukan arah ekonomi ke depan. Gerakan untuk kembali ke pertanian sejauh ini hanya sebatas wacana. Tata ruang banyak dikorbankan dan pendekatan hukum dalam hal menindak pelanggaran tata ruang tak jelas. Sebagian besar kebijakan yang dikeluarkan pemerintah kerap bermuatan politik, sehingga setiap program yang dicanangkan tidak mendapat dukungan sepenuhnya.
Dekan Fakultas Ekonomi (FE) Unud Prof. Dr. Wayan Ramantha, S.E., Ak., M.M. mengatakan, cetak biru merupakan konsep dasar perencanaan jangka panjang yang nantinya dipakai acuan dalam menentukan pembangunan jangka menegah dan pendek, termasuk dalam menentukan kebijakan ekonomi. Ketimpagan ekonomi yang terjadi selama ini merupakan salah satu dampak dari belum adannya konsep pembangunan yang jelas. Selain itu ada kecenderungan, pelaksanaannya lebih bersifat selera pemimpin.
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Undiknas University Prof. Dr. I.B. Raka Suardana, S.E., M.M. menyatakan, selama ini pertumbuhan ekonomi Bali yang cukup stabil itu lebih banyak dipengaruhi oleh non-tradeable. Pertumbuhan ekonomi kurang banyak menyerap tenaga kerja. Karena itu ke depan pemerintah selaku pengambil kebijakan, hendaknya membuka akses bagi bertumbuh-kembangnya sektor-sektor ekonomi yang lebih banyak menyerap tenaga kerja. Dengan demikian jumlah pengangguran bisa diminimalisasi dan pada gilirannya angka kemiskinan dapat dikurangi.
Kata Raka Suardana, saat ini distribusi pendapatan kurang merata di Bali. Pertumbuhan ekonomi lebih banyak di sektor pariwisata yang padat modal dan hasilnya lebih banyak lari ke pusat. Ini juga menyebabkan pertumbuhan ekonomi yang tampak tinggi, tetapi belum dirasakan oleh krama Bali.
Anggota Komisi C DPRD Denpasar A.A. Susruta Ngurah Putra mengatakan, sangat realistis bila masyarakat belum mampu merasakan pertumbuhan ekonomi yang diklaim pemerintah selama ini. Program yang dijalankan pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya masih jauh dari tataran ideal.
Karena itu, wakil rakyat dari dapil Denpasar Barat ini melihat perputaran roda ekonomi masyarakat Bali cenderung lebih banyak dijalankan dan akibat kerja keras orang per orang. ”Saya menyadari masyarakat belum merasakan dampak dari pertumbuhan ekonomi yang disampaikan dengan angka-angka tersebut,” katanya.
Ia mencontohkan, alokasi dana APBD yang dikelola pemerintah, seperti yang terjadi di Denpasar sekitar 68 persen hanya untuk biaya dan gaji pegawai. ”Artinya, persentase untuk biaya peningkatan kesejahteraan masyarakat sangat minim. Ini yang seharusnya bisa dibuat berimbang,” harapnya.
Misalnya, pendapatan daerah 2011 ini diprediksi akan mencapai Rp 885 miliar. Dari dana itu, Rp 664 miliar untuk belanja tidak langsung, seperti belanja pegawai. Sedangkan dana untuk belanja langsung hanya Rp 310 miliar. (Bali Post)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: