• Blog Stats

    • 133,309 hits
  • Masukkan email anda dan dapatkan informasi tentang lowongan kerja di Bali setiap harinya.
    Ayo...buruan gabung!!

    Join 480 other followers

Kabupaten Gianyar

gianyarKabupaten Gianyar yang berbatasan dengan Denpasar, Bangli, dan Klungkung, sering ditempatkan sebagai wilayah yang menyimpan sumber inspirasi pengembangan seni budaya. Karawitan, tari, seni kriya, dan berbagai cabang seni lainnya diyakini berkembang dari wilayah Gianyar. Hal ini tak terlepas dari kedudukan wilayah Gianyar di masa lalu sebagai pusat pemerintahan kerajaan saat peralihan sebelum dan awal era Majapahit.

Kawasan Bedahulu dan Pejeng di utara Gianyar tercatat dalam sejarah sebagai pusat pemerintahan sebelum jaman Majapahit sedangkan Samplangan di timur Gianyar adalah pusat pemerintahan saat awal kekuasaan Majapahit merangkul Bali. Di masa-masa penjajahan Belanda dan jaman kemerdekaan, wilayah Ubud, Peliatan, Masa, dan sekitarnya kian kuat mengarah sebagai pusat pengembangan seni budaya. Dapat dipastikan, sepanjang jaman, Gianyar amat lekat bergelut dengan seni budaya.
Dengan luas wilayah meliputi 36.800 ha, dibandingkan dengan Denpasar sebagai kota dagang dengan kepadatan tinggi di pusat kota, kepadatan Gianyar justru mengarah ke daerah pinggir yang merupakan kawasan wisata terutama di daerah Kecamatan Ubud. Di sisi barat Gianyar, yang meliputi kawasan Sayan hingga ke Payangan, telah berkembang menjadi daerah hunian wisata berkelas butik hotel yang mengutamakan privasi sedangkan daerah pusat Ubud berkembang jenis pension dan homestay yang berbaur dengan penduduk asli. Daerah lain di Gianyar, yang bukan merupakan daerah hunian wisata, berkembang menjadi kawasan lain di Gianyar seolah saling dukung dan melengkapi dalam membentuk Gianyar sebagai kota budaya dan pariwisata.

Keadaan Geografis Kabupaten Gianyar

Kabupaten Gianyar terletak antara 08 0 18’ 48” LS – 08 0 38’ 58” LS dan 1150 05’ 29” BT – 1150 22’ 23” BT, dengan luas wilayah 368 Km2 (36.800,00 Ha) atau 6,62 % dari luas  Pulau Bali dengan jumlah penduduk ± 357.741 jiwa yang terdiri dari penduduk perkotaan adalah 43.251 jiwa dan penduduk perdesaan 314.490 jiwa dengan kepadatan penduduk ± 960 jiwa / Km2.   Bagian terluas dari Kabupaten Gianyar ( 25,28 % ) terletak pada ketinggian 250 – 500 meter dari permukaan laut dan terdiri dari 15.227Ha sawah, 16.518 Ha tanah kering dan tanah lainnya berupa hutan/perkebunan, penyangga, jurang, dll.  Dengan curah hujan rata- rata 2.085mm pertahun.

Kabupaten Gianyar merupakan salah satu dari 9 Kabupaten/Kota yang ada di Propinsi Bali. Secara astronomis terletak diantara 8°18°48° dan 8°38°58° Lintang Selatan (LS) dan 115°22°23° Bujur Timur (BT) Wilayah bagian utara dibatasi Kabjupaten Bangli, sebelah Timur Kabupaten Klungkung. Sedangkan bagian selatan dibatasi Kota Denpasar dan bagian baratnya berbatasan  dengan Kabupaten Badung.  Kawasan Pertanian di Wilayah Kabupaten GianyarLuas wilayah Kabupaten Gianyar 368 Km²  atau 36.800 ha tersebar pada 7 (tujuh) Kecamatan.

Secara administrasi Kabupaten Gianyar memiliki 63 Desa dan 6 Kelurahan, banjar Dinas berjumlah 541, dan Desa Adatnya 269 buah serta subak 515 buah. Jumlah penduduk Gianyar tahun 2004 adalah 422.186 jiwa, laki-laki 214.903  jiwa (50,90%) dan perempuan 207.293 jiwa (49,10%) denga tingkat kepadatan 1.147 jiwa/km².

A. Fisiografi

Ditinjau dari segi topografi, maka kemiringan wilayah  Kabupaten Gianyar di Klasifikasikan menjadi 4 katagori yaitu a) wilayah datar (wilayah kemiringan 0-2%)=41,00%; b) wilayah landai (kemiringan 3-15%) = 28,50%; c wilayah miring (kemiringan 16-40%)=15,50% dan d) wilayah  terjal (kemiringan>40%)=15, Dibandigkan kabupaten, lain Gianyar tidak memiliki danau maupun gunung berapi, Beberapa bagian daratan memang  agak tinggi letaknya namun gunung berapi. Beberapa bagian daratan memang agak tinggi letaknya namun lebih merupakan tanah perbukitan. Meskipun demikian, kondisi alam yang dimilikinya cukup menguntungkan.  Sebab dengan tanah-tanah datar yang ada, masyarakatnya sebagian besar bertani dengan memanfaatkan lahan secara maksimal.

B. Sungai

Rata-rata semua Kabupaten di Bali memiliki sungai. Dari  247 buah sungai yang terdapat di bali, 13 di antaranya mengalir di Kabupaten Gianyar. Masyarakat memanfaatkan aliran sungai selain untuk kebutuhan tanah pertanian juga kepentingan lain. Bahkan dengan maraknya perkembangan pariwisata, aliran sungai dimanfaatkan untuk kegiatan wisata. Sungai-sungai yang penting Gianyar adalah Sungai Wos dengan panjang 45,5km, Sungai Petanu (37 km), Sungai Sangsang (36 km), Sungai Yeh Hoo (22 km) Sungai Ayung, Sungai Yeh Embang, Sungai Yeh Mumbul dan Sungai Balian.

 

C. Laut

Kabupaten Gianyar memiliki Panjang pantai seluruhnya berkisaran 20 Km.  Pantai pada umumnya landai kecuali  dibeberapa tempat agak curam karena terjadinya abrasi  tanah sekitarnya. Pantai yang membentang rata-rata berpasir hitam. Masyarakat sekitarnya belum banyak memanfaatkan potensi  laut yang ada.   Sebagian kecil melakukan penangkapan ikan dengan Kawasan Pantai Saba yang menggunakan peralatan yang masih sederhana. Sejumlah pemilik modal mulai mengembangkan lahan sekitar pantai untuk budidaya tambak udang. Meski dalam areal terbatas. Pemanfaatan laut untuk pariwisata mulai dikembangkan seperti selancar di Kawasan Pantai Masceti Keramas. Kebijakan dibukanya wilayah Gianyar bagian timur sebagai kawasan wisata diharapkan dapat lebih memanfaatan potensi pantai

 

PARIWISATA

 

  1. Sebelum Kemerdekaan

Bali sudah dikenal oleh dunia luar sejak ratusan tahun lalu  tetapi bukan sebagai daerah tujuan wisata. Pada abad ke- 7, misalnya orang-orang Cina telah mengenal daerah ini dan memberikan julukan kepada pulau kecil yang kemudian dikenal dengan nama Bali sebagai Dva-pa-tan.  Bali yang  mungil hanya dijadikan tempat transit mencari tambahan logistic buat kapal-kapal layar. Bali bukan tujuan utama atau  tujuan ahir sebuah perjalanan.

Dunia Kepariwisataan Bali baru mulai benar-benar berkembang pada awal abad ke-20, yakni ketika untuk pertama kalinya kapal  api Belanda yang terkenal dengan nama Konninklijk Paketvart Maatschapij (KPM) mengangkut wisatawan mengunjungi Bali melalui pelabuhan Buleleng (Bali Utara). Kapal ini sebelumnya sudah beroperasi sejak ahir abad ke-19, tetapi yang diangkut adalah babi, kopra, kopi bukan wisatawan. Dengan keyakinan bahwa bisnis pariwisata akan berkembang, sekitar tahun 1914 untuk pertama kalinya KPM mengeluarkan brosur pariwisata Bali  yang diterbitkan untuk menarik lebih bannyak lagi minat  wisatawan berlibur kepulau Dewata.

Perhatian untuk mengembangkan kepariwisataan di Bali mulai tampak bersungguh-sungguh dengan didirikannya Bali Hotel tahun 1925 di Denpasar oleh KPM. Dari sinilah kemudian pariwisata Bali dan tentu saja Gianyar berkembang pelan-pelan sampai pada wujud, kemajuan dinamika, dengan segala institusinnya dewasa  ini.   Jika rintisan pariwisata KPM bisa diterima berarti perkembangan pariwisata di daerah ini sudah terjadi jauh sat sebelum Indonesia merdeka tahun 1945. Selain peranana KPM yang  kreatip memerancang, menawarkan dan mempromosikan paket wisata ke bali kepada calon wisatawan mancanegara seperti Amerika, Australia, Inggris.

Salah satu seniman yang peranannya sangat besar dalam membangun citra kepariwisataan Bali pada  umumnya dan Gianyar khususnya adalah Walter Spies (1845-1942)  yang diba di Bali Tahun 1927 dan menetap di Ubud selama lebih  kurang 15 tahun.   Peninggalan Spies berupa bungalow masih ada  sampai sekarang di Hotel Tjampuhan.

Setelah setahun tinggal di Yogya Tjokorda Gde Raka Sukawati dari ubud mengajaknya untuk datang dan tinggal di ubud secara permanent.   Mula-mula Spies tinggal dihalaman depan Puri Saren, Ubud. Sehari-hari dia bermain piano dan keliling desa dengan. Spies memiliki kegemaran berburu kupu-kupu. Dalam berburu dia biasanya ditemani Tjokorda Gde Agung Sukawati. Spies mempunyai  jaringan-jaring (Butterfly net) khususnya dibawa serta ke Bali  untuk menangkap kupu-kupu di bungkus dengan kertas emas dan dikirim ke museum lainnya.

Ketika dua intelektual German, Viktor Baron Von  Plessen dan Dr. Dahlsiem datang ke Bali membuat film berjudul  Island of the Demons (Pulau Raksasa), Spies berkesempatan untuk memasukan segala apresiasinnya tentang Bali secara mendalam. Orang-orang yang kemudian menonton Island of the Demons tentu bisa dikatakan sebagai melihat Bali melalui  persepsi, Visi, atau sudut pandang Spies, Populasi Spies sebagai pelukis dan intlektual yang mengenal Bali secara dekat menundang banyak orang Barat untuk datang ke Bali dan berkunjung ke pondoknnya di Tjapuhan. Andrian Vickers dalam bukunnya Bali Paradise Creatid (1989) menyebutkan bahwa orang-orang yang pernah berkunjung ke Spies adalah Charlie Chaplin, bintang film jenaka Amerika. Selain Chaplin, tamu istimewa Spies yang terkenal adalah Vicki Baum, seorang Novelis wanita produktif yang karya-karyannya dikenal dalam berbagai bahasa       Tidak mengherankan kemudian Spies dijuluki sebagai “the creation of modern Balinese art  (pencipta seni Bali Modern)Di bidang seni lukis, nama Walter Spies tidak bisa dipisahkan dengan Rudolf Bonnet, kolegannya dari Belanda, seorang Guru gambar. Spies dan Bonnet (Pelukis Belanda yang datang di Bali  tahun 1929) melihat perkembangan seni lukis di ubud terancam komersialisasi pariwisata sehingga bersama dengan Tjokorda Gde Agung Sukawati dari Puri Ubud, mereka membentuk organisasi yang disebut Pita Maha tahun 1936 yang berpusat di Ubud. Melalui lembaga inilah seni lukis Bali diberikan nilai yang  sejati dalam menghadapi kecenderungan komersialisasi.

Peranan Spies juga luar biasa dalam proses penulisan buku  Island Of Bali (1937) oleh Miguel Covartubias(1904-1957) yang datang di Bali tahun 1930 dengan kapal pesiar Cingaless Princess dari New York (melalui terusan Suez, Samudra Pasifik, Laut Cina Selatan, Surabaya, lalu masuk Buleleng)” Buku Island Of Bali banyak mempromosikan tradisi seni, dan Budaya Bali dengan segala eksotismenya sehingga secara langsung turut menciptakan citra Bali kepada dunia luar. Sejak pariwisata berkembang tahun 1920-an, jumlah junjungan pelan-pelan bertambah.

B.  Sesudah Kemerdekaan

Bali mempunyai arti besar sekali dalam kejayaan Soekarno, beliau membawa tamu-tamu Negara seperti Nehru, President Kennedy, dan Ho Chi Minh (Vietnam). Dalam kunjungan ke Bali,  Soekarno beberapa kali mampir ke Puri Ubud. Dalam hampir setiap kedatangan mengantar tamu-tamu Negara, Presiden Republik Indonesia yang pertama ini disambut dengan tari-tarian dari ubud atau daerah lainnya di Gianyar. Di daerah Gianyar pula. Soekarno membangun Istana Bogor). Di  Istana Tampaksiring ini terdapat Panggung khusus untuk   pementasan tari-tarian. Selanjutnya perhatian presiden pada kesenian Bali terlihat pada pengiriman tim kesenian Bali pada tahun 1950-an ke luar Negeri, seperti Czechoslowakia, untuk  mempromosikan kebudayaan Bali khususnya dan Indonesia pada umumnya. Seniman-seniman dalam tim kesenian itu adalah dari Gianyar, seperti I Nyoman Kakul, dan I Ketut Rinda.

Pada bulan November 1967, Soekarno datang ke Bali mengantar General; Prasad (Presiden India Waktu itu) dan berkunjung ke Ubud. Sebulan kemudian, Desember 1967, Soekarno mengantar Presiden Tito dan Nyonya ke Ubud. Sebagaimana biasa, Soekarno  membawa Tamu-tamunya ke Ubud. Ketika membawa Presiden Prasad dengan helicopter, atap museum sempat porak poranda di hembus angin. Tamu-tamu Negara yang pernah berkunjung ke Musium Ratna Warta dan Puri Ubud adalah Raja dan Ratu Sirikit (Thailan) Wakil Presiden mesir, Bob Kennedy (Wakil jasa Agung Amerika Serikat), Ratu Belanda tahun 1971, lalu Pangeran Philip. Datang juga mantan Raja dan Ratu Belgia, lalu tahun 1975 datang berkunjung Rockefeller (Wakil Presiden Amerika Serikat) yang terbang dari Singapura ke Bandara Ngurah Rai Denpasar.

Banyaknya kunjungan tamu Negara secara langsung memberikan nilai tambah pada pesona Ubud. Promosi melalui media Massa  yang ditulis oleh wartawan yang mengikuti tamu-tamu Negara itu semakin luas yang akhirnya membuat Ubud yang terkenal sejak  tahun 1920-an melalui intelektual dan sarjana barat menjadi makin terkenal pada Khalayak yang lebih luas. Perkembangan paling mencolok terjadi tahun 1980-an.

C. Pariwisata Gianyar Awal 1990

 

Pesatnya perkembangan kepariwisataan Gianyar pada khususnya, Pemerintah Kabupaten Gianyar mengeluarkan SK nomor 29/1988  tertanggal 10 Februari 1988 tentang pembentukan Dinas  Pariwisata Gianyar. Berdasarkan SK Bupati Gianyar tentang  penetapan Obyek-obyek Wisata Kabupaten Gianyar Nomor 171/1994 tertanggal 5 Mei 1994 tertanggal 5 Mei 1994, Kabupaten Gianyar memiliki 46 Obyek Wisata yang terdiri atas obyek wisata alam,  museum, peninggalan purbakala, pusat kesenian, pusat  kerajinan, dan seterusnya.

Obyek wisata sebanyak itu belum mencakup antraksi wisata, seperti yang berkembang di Gianyar  sejak awal 1990-an, yaitu antraksi wisata arung jeram  (rafting) dan wisata melihat burung (Bali Bird Park).         Sebagian besar  kawasan wisata ini sudah berkembang jauh, sebagian lainnya  mulai tumbuh seperti terlihat dalam masuknya investor  membangun kapasitas kepariwisata di daerah Melinggih Kelod dan Kaja.  Dalam waktu tidak terlalu lama lagi, kawasan wisata yang baru  ini akan berkembang mengikuti perkembangan Ubud, Peliatan, Mas dan sebagainya di kawasan yang sama.

 

D.     Tempat-tempat Menarik (Places of Interest)

Posisi Gianyar sangat strategis sekali baik dilihat secara  geografis maupun dari sudut pandang lalu lintas perjalanan wisata di Bali. Desa-desa kabupaten yang terkenal karena prestasi artistiknya di bidang kerajinan patung, perak, lukisan, kesenian dan sejenisnya terletak di tepi jalan utama Denpasar-Gianyar-Klungkung-Karangasem.Perjalanan dari Denpasar ke ujung timur Pulau Bali atau perjalanan yang datang dari Karangasem ke Denpasar akan melintas daerah-daerah Gianyar.

Wisatawan yang datang ke Bali melalui Bandara Ngurah Rai, akan melihat pesona desa-desa Gianyar di tepi jalan ketika mereka mengikuti trip ke arah timur, sedangkan wisatawan yang masuk ke Bali melalui pelabuhan Padangbai (biasanya wisatawan yang pergi dengan kapal pesiar atau Cruise ship mau tidak mau akan melewati desa-desa seni Gianyar dalam perjalanannya menuju Sanur, Kuta atau Nusa Dua. Setiap desa yang dilalui itu memiliki daya tarik yang khas sehingga dapat disebut sebagai potensi dan daya pikatnya).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: