• Blog Stats

    • 93,524 hits
  • Masukkan email anda dan dapatkan informasi tentang lowongan kerja di Bali setiap harinya.
    Ayo...buruan gabung!!

    Join 461 other followers

Pura Pulaki

pulakiPura Pulaki terletak di Desa Banyu Poh, Kecamatan Grokgak Buleleng sekitar 49 km sebelah barat kota Singaraja.  Nama Pura Pulaki lebih dikenal daripada pura dalem melanting karena sesungguhnya Pura Dalem melanting merupakan kesatuan dari Pura Pulaki.   Dari tinjauan sejarahnya pendirian Pura Pulaki berhubungan erat dengan Perjalanan Tirtayatera yang dilakukan oleh Danghyang Nirartha di Pulau Bali pada pemerintahan Raja gelgel, Dalem Waturenggong 1460 – 1552 Masehi.

Fungsi Pura Pulaki adalah sebagai tempat suci untuk memuja Sanghyang Widhi dan memuja keagungan jiwa Sri Patni Kaniten yang mencapai moksa.  Pura Pulaki tergolong sebagai Pura Kahyangan Jagat dan Dang Kahyangan karena berkaitan dengan Danghyang Nirartha

Pura Ponjok Batu

ponjok batuLokasi dari Pura Ponjok Batu terletak di Dusun Alasari, Desa Pacung Kecamatan Tejakula sekitar 24 Kilometer arah timur dari Kota Singaraja.  Areal Pura Ponkok Batu luasnya sekitar 35 are berupa batu-batu hitam dengan posisi agak menjorok kepantai seperti sebuah tanjung atau ponjok.  Atas dasar posisi dan lingkungan itu maka tempatnya dinamakan Ponjok batu.

Pura Ponjok Batu didirikan sekitar abad ke-16, dimana pendiriannya dikaitkan dengan pelaksanaan Tirtayatra  Danghyang Nirartha ketika melakukan Tirta yatra di Daerah Bali Utara, Lombok dan Sumbawa.  Menurut Lontar Dwijendra Tattwa fungsi Pura Ponjok Batu adalah untuk memuja keagungan Danghyang Nirartha sebagai seorang guru dalam memantapkan ajaran agama Hindu, khususnya Siwaistis dengan diperkuat adanya pelinggih khusus di Pura Ponjok Batu yang disebut pelinggih Danghyang Nirartha.   Status Pura Ponjok Batu adalah sebagai Kahyangan Jagat dan dapat dikelompokkan sebagai Dang Kahyangan karena berhubungan erat  dengan seorang Dang Guru sebagai Cinta Indonesia.

Pura Beji

BEJI (1)Pura Beji berlokasi di Desa Sangsit Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng dengan jarak kurang lebih 8 Km arah Timur Kota Singaraja.  Lingkungan Pura Beji ini jika disimak tampak sangat unik  dengan dibatasi oleh tegalan disisinya dengan panorama yang indah  dan tampak dominant ditengah tengah tegalan yang menghijau serta kerindangan pepohonan sehingga menimbulkan keharmonisan panorama spiritual untuk dinikmati.  Keharmonisan, keindahan dan kesakralan Pura Beji tidak terlepas dari Trimandala Bangunan Fisik, ornament yang ditampilakn yang merupakan karya para Undagi Maranggi dan Sangging Maranggi Bali bagian utara, yang tidak ditemukan di Bali bagian selatan.

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari Institut Hindu Dharma Denpasar, pura Beji belum dapat dipastikan asal-usulnya seperti kapan dibangun dan siapa yang membangun, hal ini disebabkan minim atau tidak adanya data-data sejarah, namun dalam penelitian yang dilakukan oleh para ahli dengan mamakai informasi wawancara dari berbagai sumber menghasilkan data bahwa Pura Beji dibangun sekitar abad ke 15 Masehi, setelah jaman Majapahit, dan Pura beji mengalami beberapa kali renovasi dan perluasan.  Pura Beji berfungsi sebagai Pura Swagina  yang disungsung dan diempon oleh Krama subak yang bertanggungjawab pada hal-hal yang berkaitan dengan masalah upacara keseharian sampai pada masalah pemeliharaan bangunan Pura secara fisik

Unsur dan struktur mandala Pura Beji di desa sangsit, dibagi menjadi tiga mandala. Pada saat masyarakat  umat Hindhu akan melakukan upacara, persembayangan dan pemuspan ke Pura Beji, dari nista mandala masuk ke madya mandala akan melalui bangunan Apit  surang atau Candi Bentar dan kalau masuk dari madya mandala ke utama mandala akan masuk melalui Gelung Kuri atau Kuri Agung.

Pura Kehen

KEHEN (1)Pura Kehen terletak di kaki bagian selatan Bukit Bangli, di lingkungan Pakuwon daerah pemukiman penduduk yang merupakan wilayah kota Bangli, sekitar 45 kilometer dari kota Denpasar.  Didepan Pura Kehen terdapat pura penyimpanan 3 buah prasasti yang isinya berkaitan dengan keberadaan Pura Kehen.  Menurut DR R. Goris ketiga prasasti tersebut adalah Prasasti Pura Kehen A prasti type YUMU PAKATAHU dari abad ke-9, Prasasti Pura Kehen B tahun Saka 971 yang dikeluarkan oleh Anak Wungsu dan Prasasti Tahun Saka 1126 yang dikeluarkan oleh Raja Sri Adi Kuntiketana.

Pada abad ke-9, berdasarkan Prasasti Pura Kehen A, Pura Kehen disebut dengan nama “Hyang Api” pada masa berikutnya yaitu pada abad ke-13 berdasarkan Prasasti yang dikeluarkan oleh Raja Sri Adi kuntiketana nama Pura Kehen adalah “Hyang Kehen” Hyang Api dan Hyang Kehen memiliki pengertian yang identik karena kata “Kehen” berasal dari kata “Keren” yaitu tempat api yang disebut “Anglo” atau tempat api untuk bersaji “Tempat api homa”.  Kata Keren tersebut yang berubah menjadi Kehen, sehingga Hyang Kehen sama pengertiaanya dengan apa yang disebut pura Kehen.

Fungsi Pura Kehen berdasarkan data prasasti dan data yang lainnya tersirat bahwa Pura kehen merupakan salah satu Pura Keraajaan yang diayomi oleh raja, sedangkan pelaksanaan upacara serta pembinaannya diserahkan kepada desa pakraman stempat.

Struktur halaman pura Kehen ditata berteras, menunjukkan adanya tradisi megalitik yang melanjut sebagai symbol dari keberadaan potensi gunung sebabagi salah satu sumber kesuburan.  Sementara itu konsep penataan halaman terdiri dari 3 halaman, merupakan landasan konsep “Tri Loka” yaitu :

a.  Halaman 1 merupakan Jaba sisi sebagai Bhur Loka merupakan alam bawah

b.  Halaman 2 merupakan Jaba Tengah jeroan sebagai Bwah  loka alam tengah.

c.  Halaman 3 merupakan Jeroan sebagai Swah Loka alam atas atau sorga.
Masing-masing halaman tersebut dibatasi oleh tembok penyengker dengan gapura sebagai tempat keluar masuk.

Pura Uluwatu

ULUWATU (1)Di ujung paling barat semenanjung Bukit, terdapat sebuah Pura Sad Kahyangan sebagai penyangga salah satu darl 9 arah mata angin yakni Pura Luhur Uluwatu. Pura ini dibangun, bertengger persis di atas batu karang yang menjorok ke laut dengan pemandangan yang luar biasa indahnya, terlebih-lebih tatkala Surya mulai redup menurun di ufuk barat.

Pura Uluwatu pertama-tama dipakai sebagai tempat untuk memuja seorang pendeta suci yang datang pada abad ke 11, bernama Empu Kuturan. Beliaulah yang menurunkan ajaran Desa Adat dengan segala peraturan tata tertibnya. Pura tersebut berikutnya juga dipakai untuk pemujaan Pendeta suci berikutnya Dang Hyang Nirartha, yang datang ke Bali di akhir tahun 1550 dan mengakhiri perjalanan sucinya dengan Moksah / Ngeluhur di tempat ini. Selanjutnya dengan kata itu dipakai melengkapi nama Pura yakni Pura Luhur Uluwatu.

ecara arfiah, Taman Ayun berarti Taman yang Indah. Pura ini terletak di Desa Mengwi sekitar 18 kilometer barat laut kota Denpasar dan merupakan salah satu dari pura-pura yang terindah di Bali. Halaman pura ditata sedemikian indah dan dikelilingi kolam ikan yang dibangun tahun 1634 oleh Raja.Mengwi saat itu I Gusti Agung Anom. Dihiasi oleh  meru – meru yang menjulang tinggi dan megah diperuntukkan baik bagi leluhur kerajaan maupun bagi para Dewa yang bestana di Pura-pura lain di Bali.