• Blog Stats

    • 99,939 hits
  • Masukkan email anda dan dapatkan informasi tentang lowongan kerja di Bali setiap harinya.
    Ayo...buruan gabung!!

    Join 469 other followers

Asal Usul Nama Bali

Tahukan Anda dari mana asal nama Bali untuk menyebut sebuah pulau di timur Pulau Jawa?

Kedatangan seorang Maha Rsi Markandeya abad ke-7 memberikan pengaruh besar pada kehidupan penduduk Bali. Beliau adalah seorang pertapa sakti di Gunung Raung, Jawa Timur.

Suatu hari beliau mendapat bisikan gaib dari Tuhan untuk bertempat tinggal di sebelah timur Pulau Dawa (pulau Jawa sekarang). Dawa artinya panjang, karena memang dulunya pulau Jawa dan Bali menjadi satu daratan.

Dengan diikuti oleh 800 pengikutnya, beliau mulai bergerak ke arah timur yang masih berupa hutan belantara. Perjalanan beliau hanya sampai di daerah Jembrana sekarang Bali Barat karena pengikut beliau tewas dimakan harimau dan ular-ular besar penghuni hutan. Akhirnya beliau memutuskan kembali ke Gunung Raung untuk bersemedi dan mencari pengikut baru.

Dengan semangat dan tekad yang kuat, perjalanan beliau yang kedua sukses mencapai tujuan di kaki Gunung Agung (Bali Timur) yang sekarang disebut Besakih.

Sebelum pengikutnya merabas hutan, beliau melakukan ritual menanam Panca Dhatu berupa lima jenis logam yang dipercayai mampu menolak bahaya. Perabasan hutan sukses, tanah-tanah yang ada beliau bagi-bagi kepada pengikutnya untuk dijadikan sawah, tegalan, rumah, dan tempat suci yang dinamai Wasukih (Besakih).

Di sinilah beliau mengajarkan agama kepada pengiringnya yang menyebut Tuhan dengan nama Sanghyang Widhi melalui penyembahan Surya (surya sewana) tiga kali dalam sehari, menggunakan alat-alat bebali yaitu sesajen yang terdiri atas tiga unsur benda: air, api, dan bunga harum.

Ajaran agamanya disebut agama Bali. Lambat laun para pengikutnya mulai menyebar ke daerah sekitar, sehingga daerah ini dinamai daerah Bali, daerah yang segala sesuatunya mempergunakan bebali (sesajen).

Bisa disimpulkan bahwa nama Bali berasal dari kata bebali yang artinya sesajen.

Ditegaskan lagi dalam kitab Ramayana yg disusun 1200SM: “Ada sebuah tempat di timur Dawa Dwipa yang bernama Vali Dwipa, di mana di sana Tuhan diberikan kesenangan oleh penduduknya berupa bebali (sesajen).”

Vali Dwipa adalah sebutan untuk Pulau Vali yang kemudian berubah fonem menjadi Pulau Bali atau pulau sesajen. Tidak salah memang interpretasi ini melihat orang Bali memang tidak bisa lepas dari sesajen dalam menjalankan kehidupan sehari-harinya. (Beritabali.com)

Gambaran Umum Daerah Bali

Bali sebagai daerah pusat wisata Indonesia bagian tengah, dan tujuan wisata dunia memeiliki potensi yang menunjang pertumbuhan kepariwisataan.  Potensi tersebut antara lain mencakup potensi manusia dan kebudayaannya.

Panorama alam yang indah dan ideal, hutan yang hijau, gunung, danau, sungai serta sawah yang membentang dengan teras-teras serta pantai yang indah dengan beragam pasir hitam dan putih.  Perpaduan alam, manusia dan kebudayaan Bali yang unik yang berlandaskan kepada konsepsi keserasian mewujudkan satu kondisi estetika yang ideal dan bermutu tinggi.

Wilayah, Letak, dan Keadaan Geografis

Propinsi Bali merupakan salah satu dari 33 Propinsi yang ada di Indonesia.  Propinsi Bali terdiri dari Pulau Bali, Pulau Nusa Penida serta beberapa Pulau-pulau kecil lainnya memiliki luas wilayah 5.632,82 kilometer persegi.  Secara administrasi Pulau Bali terdiri dari delapan Kabupaten, satu wilayah kota, 53 kecamatan dan 658 Desa/Kelurahan, 3563 Banjar/Dusun/lingkungan.

Daerah Bali berada pada posisi 7 54 dan 8 3 lintang selatan dan 114,25 dan 115 43 Bujur timur. Pulau Bali memiliki letak yang sangat strategis, karena menghubungkan lalu lintas laut dan darat antara Pulau Jawa dengan Nusa tenggara.  Bali juga terletak antara Benua Asia dan Australia.  Secara geografis ditengah-tengah Pulau Bali terbentang pegunungan memanjang dari barat ke timur.  Diantara pegunungan tersebut terdapat sejumlah gunung sebagai puncaknya seperti : Gunung Agung (3.142 m ) meter, Gunung Batur (1.717)meter, Gunung Abang (2.276)meter, Gunung Batukaru (2.276)meter.  Gunung Agung dan Gunung Batur  merupakan gunung berapi.  Disebelah utara dan selatan pegunungan tersebut terbentang tanah daratan.  Danau-danaunya adalah danau batur dengan luas 1.607,5 hektar, Danau Beratan 375,6 hektar, Danu Buyan 336 hektar dan Danau Tamblingan 110 hektar.  Sungai-sungai yang bersumber dari hutan dan danau tersebut kebanyakan mengalir ke daerah selatan, seperti sengai Unda, Sungai Petanu, Sungai Ayung, Sungai Pulukan, Sungai loloan dan lain-lain.

Iklim

Daerah Bali termasuk daerah beriklim tropis yang dipengaruhi oleh angin musim yang berganti setiap enam bulan sekali.  Daerah Bali memiliki dua musim yang berganti setiap enam bulan sekali.  Daerah Bali memiliki dua musim yaitu musim kemarau antara bulan April sampai Oktober dan musim hujan antara bulan Oktober sampai April.  Temperatur udara bervariasi antara 24 derajat celcius dan 30 derajat celcius.  Curah hujan dalam lima tahun terakhir bervariasi antara terendah 893,4 milimeter dan tertinggi 2.702,6 milimeter untuk rata-rata tahunan.  Kelembabban udara rata-rata 79%.

Flora dan Fauna

Keadaan fauna di Bali sebagian terwujud sebagai fauna yang telah diternakkan meliputi : sapi, kerbau , kambing, babi, kuda, ayam dan itik.  Keadaan flora secara keseluruhan tergolong jenis flora tropis.  Jenis flora alam yang belum diolah oleh manusia ada beraneka macam yang tumbuh di hutan-hutan.

Flora yang telah diolah manusia mencakup jenis flora yang berhubungan dengan usaha pertanian pangan seperti padi dan palawija, usaha perkebunan, usaha tanaman pekarangan dan tanaman hias.  Jenis perkebunan di bali meliputi : Kelapa, kopi, cengkeh, kapuk, jambu mete, tembakau, vanili serta coklat.

Penududuk dan Identitas

Jumlah penduduk Propinsi Bali menurut sensus penduduk tahun 2000 sebesar 3.146.999 jiwa. Empat sensus sebelumnya mencatat jumlah penduduk Bali sebagai berikut : 1930 sebanyak 1.101.029 jiwa, sensus 1961 sebanyak 1.782.529 jiwa dan sensus 1971 sebanyak 2.120.091 jiwa, sensus 1980 sebanyak 2.469.930 jiwa.  Orang Bali disamping berdomisili di propinsi Bali, juga tersebar di berbagai Propinsi lain di Indonesia sebagai transmigran.

Orang Bali atau suku Bali merupakan salah satu suku yang berdomisili di kepulauan Indonesia.  Suku Bali merupakan kelompok yang terikat oleh kesadaran atau satu kesatuan kebudayaan daerah Bali maupun kebudayaan nasional Indonesia.  Rasa kesadaran akan kesatuan kebudayaan Bali diperkuat oleh adanya kesatuan bangsa dan kesatuan agama Hindu.  Bahasa Bali memiliki tradisi sastra, baik berupa tertulis maupun lisan dan didukung oleh system aksara tersendiri.

Orang-orang Bali tradisional sangat terikat pada segi-segi kehidupan mereka seperti :

1. Kewajiban melakukan pemujaan Pura tertentu.

2. Pada satu tempat tinggal atau komunitas;

3. Pada pemilikan tanah pertanian dalam satu subak tertentu;

4. Pada satu status sosial atas dasar warna;

5. Pada ikatan kekerabatan pada prinsip patrilineal;

6. Pada keanggotaan terhadap sekehe tertentu;

7. Pada satu kesatuan administrasi desa dinas tertentu.

Manusia  masyarakat dan kebudayaan Bali baik oleh sebab-sebab internal maupun eksternal telah mengalami berbagai dinamika dan perubahan.  Dinamika dan perubahan tersebut berproses menurut alur perkembangan tiga tradisi utama yang merupakan refleksi keseluruhan kebudayaan Bali yaitu tradisi kecil, tradisi besar dan tradisi modern.  Tradisi kecil terdiri dari unsur-unsur kebudayaan Bali asal dari kehidupan prasejarah Hindu seperti yang masih nampak dalam kebudayaan masyarakat Bali Age.  Tradisi besar mencakup unsur-unsur kehidupan masyarakat dan kebudayaan yang berkembang seiring dengan agama Hindu.  Tradisi modern mencakup unsure-unsur yang berkembang sejak jaman penjajahan, kemerdekaan dan era informasi serta globalisasi.  Jati diri orang Bali sangat dominan dibentuk oleh kebudayaan Bali yang dijiwai Agama Hindu dengan dukungan tiga unsur pokok yaitu Bahasa Bali, Kesenian dan lembaga tradisional serta berlandaskan pada konfigurasi nilai-nilai dasar yang mencakup nilai religius, solidaritas dan estetika.  Medernisasi masyarakat dan kebudayaan Bali telah ikut teknologi.  Secara keseluruhan , gerak perubahan masyarakat dan kebudayaan Bali dalam kerangka modernisasi dan globalisasi cenderung menuruti konsep continuity in changes.

Garis Besar Kebudayaan Bali

Keberadaan kebudayaan Bali memiliki akar sejarah yang sangat panjang, berawal dari jaman prasejarah berlanjut pada jaman modern serta peradaban global.  Dalam keterbukaan dengan modernisasi dan globalisasi, kebudayaan Bali memperlihatkan sifat dinamis, selektif, fleksibel dan adaptif.

Kebudayaan bali yang awalnya lebih mencerminkan konfigurasi budaya ekspresif dengan dominannya nilai religius solidaritas dan estetika, kini semakin berkembang dengan teradopsinya nilai-nilai progresif yang mencakup nilai ekonomis serta ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dalam garis besar, periodesasi sejarah kebudayaan Bali berkembang menurut tiga tahapan utama :

  1. Jaman kebudayaan prasejarah
  2. Jaman pengaruh agama Hindu Buda
  3. Jaman pengaruh kebudayaan modern.

Bukti-bukti penemuan menunjukkan bahwa jaman prasejarah pulau Bali berpangkal pada jaman paling tuaketika masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana.  Selanjutnya juga ditemukan alat-alat masa berburu dan perundagian.  Satu komunikasi yang khusus yang kemudian mempunyai arti yang dalam  bagi eksistensi dan perkembangan lanjut kebudayaan Bali adalah terjalinnya kebudayaan Bali dengan agama Hindu yang berawal sekitar permulaan tarikh masehi.  Komunikasi tersebut kini mewujudkan satu integrasi yang utuh antara tradisi, Agama dan kebudayaan serta mewujudkan satu konfigurasi budaya yang menjadi identitas  masyarakat Bali.  Pengaruh kebudayaan barat yang diperkenalkan oleh Orang Belanda kemudian berlanjut dalam kerangka integrasi dengan kebudayaan nasional melalui pariwisata.   Sejarah Bali mengungkapkan adanya berbagai dinasti dan kerajaan local.  Dinasti yang pertama berdiri adalah dinasti Warmadewa sekitar tahun 913.   Pada tahun 989 – 1011 memerintah raja Dharma Udayanan dari dinasti Warmadewa tersebut yang memerintah bersama permaisuri Gunapriya Dharmapatni, seorang putri dari Jawa Timur yang melahirkan tiga orang putra yaitu : Airlangga, Marakata dan Anak Wungsu.

Sejak tahun 1343 Bali berada dalam kekuasaan Majapahit, dan sejak tahun 1352 dibawah dinasti Kresna Kepakisan yang berkeraton di Samprangan.  Setelah beberapa tahun di Samprangan pada tahun 1380 keraton dipindahkan ke Gelgel kemudian dipindahkan ke Klungkung pada tahun 1686.  Disamping kekuasaan raja Kelungkung di Bali ada juga raja-raja lainnya seperti : Gianyar, Karangasem, Bangli, Badung, Tabanan, Jembrana dan Mengwi.  Kerajaan-kerajaan pada saat itu berperan sebagai pusat pengembangan kebudayaan.

Sejarah Bali mencatat masa kedatangan Islam yang diperkirakan pada abad ke 14. Kedatangan Belanda tahun 1597.  beberapa peperangan melawan penjajah Belanda antara lian : Perang Buleleng tahun 1849, Puputan Badung 1906 dan Puputan Kelungkung tahun 1908.   Disamping itu bali juga mengalami penjajahan oleh Bangsa Jepang.  Revolusi phisik yang terjadi di bali Bali mengakibatkan perang besar yang dikenal dengan perang Puputan Margerana pada tanggal 20 November 1946 dibawah pimpinan Letkol I Gusti Ngurah Rai.