• Blog Stats

    • 99,436 hits
  • Masukkan email anda dan dapatkan informasi tentang lowongan kerja di Bali setiap harinya.
    Ayo...buruan gabung!!

    Join 468 other followers

Desa Tenganan

tengananDesa Tenganan atau dikenal dengan Tenganan Pegeringsingan, merupakan salah satu dari sejumlah desa kuno di Pulau Bali. Pola kehidupan masyarakatnya mencerminkan kebudayaan dan adat istiadat desa Bali Aga ( pra Hindu ) yang berbeda dari desa-desa lain di Bali. Karenanya Desa Tenganan dikembangkan sebagai salah satu obyek dan daya tarik wisata budaya.

Lokasi Desa Tenganan Pegeringsingan terletak di Kecamatan Manggis, sekitar 17 km jaraknya dari Kota Amlapura – ibukota kabupaten –, 5 km dari kawasan pariwisata Candidasa, dan sekitar 65 km dari Kota Denpasar.

Sebagai obyek wisata budaya, Desa Tenganan memiliki banyak keunikan dan kekhasan yang menarik untuk dilihat dan dipahami. Dari sistem kemasyarakatan yang dikembangkan, bahwa masyarakat Desa Tenganan terdiri dari penduduk asli desa setempat. Hal ini disebabkan karena sistem perkawinan yang dianut adalah sistem parental dimana perempuan dan laki-laki dalam keluarga memiliki derajat yang sama dan berhak menjadi ahli waris.

Hal ini berbeda dengan sistem kekeluargaan yang dianut oleh masyarakat di Bali pada umumnya.Di samping itu, mereka juga menganut sistem endogamy dimana masyarakat setempat terikat dalam awig-awig ( hukum adat ) yang mengharuskan pernikahan dilakukan dengan sesama warga Desa Tenganan, karena apabila dilanggar maka warga tersebut tidak diperbolehkan menjadi krama ( warga ) desa, artinya bahwa ia harus keluar dari Desa Tenganan.

Daya tarik lain yang dimiliki Desa Tenganan adalah tradisi ritual Mekaré-karé atau yang lebih dikenal dengan “perang pandan”. Mekaré-karé merupakan bagian puncak dari prosesi rangkaian upacara Ngusaba Sambah yang digelar pada setiap Bulan Juni yang berlangsung selama 30 hari.

Selama 1 bulan itu, Mekaré-karé berlangsung sebanyak 2-4 kali dan setiap kali digelar akan dihaturkan sesajen kepada para leluhur. Mekaré-karé atau “perang pandan” diikuti para lelaki dari usia anak-anak sampai orang-orang tua. Sesuai namanya, maka sarana yang dipergunakan adalah daun pandan yang dipotong-potong sepanjang ±30 cm sebagai senjata dan tameng yang berfungsi untuk menangkis serangan lawan dari geretan duri pandan. Luka yang diakibatkan oleh geretan duri pandan akan dibalur dengan penawar yang dibuat dari ramuan umbi-umbian, seperti laos, kunyit, dan lain-lain.

Keunikan lain yang dimiliki oleh Desa Tenganan yang tidak dimiliki oleh daerah lainya di Bali bahkan di Indonesia adalah kerajinan tenun double ikat kain Gringsing. Kata Gringsing itu sendiri berasal dari kata “gering” yang berarti sakit atau musibah, dan “sing” yang artinya tidak, maka secara keseluruhan gringsing diartikan sebagai penolak bala.

Proses pembuatan kain gringsing sangatlah unik dan memerlukan waktu yang lama ( sampai 3 tahun ), sehingga keberadaannya menjadi langka dan harganya cukup mahal.

Kain gringsing wajib dimiliki oleh warga Desa Tenganan karena merupakan bagian dari perlengkapn upacara, seperti dalam upacara ngaben ( pembakaran jenazah ) dimana kain gringsing ditempatkan pada pucuk badé ( tempat mengusung mayat ). Selain itu pada upacara potong gigi, gringsing dipergunakan pula sebagai alas bantal. Banyak cerita di masyarakat yang menyebutkan bahwa darah manusia digunakan dalam pemberian warna pada benang unuk memperoleh warna yang diinginkan. Hal ini disebabkan karena kain gringsing memang didominasi oleh warna merah. Namun yang sebenarnya adalah bahwa bahan-bahan pewarna dalam pembuatan kain gringsing berasal dari getah-getah kayu tertentu dan biji kemiri yang diramu sedemikian rupa sehingga dapat berfungsi sebagai pewarna.

Tidak banyak yang mengetahui bahwa keindahan alam Desa Tenganan berpotensi sebagai wisata alternatif jalur trekking dengan melewati jalan desa, perbukitan, dan juga hamparan sawah penduduk. Rute pendek jalur trekking ini dapat ditempuh dalam waktu ±3-4 jam.

Desa Penglipuran

PENGELIPURAN (5)Desa Penglipuran merupakan Desa tradisional yang memiliki cirri tersendiri. Desa Penglipuran terletak di Kelurahan Kubu, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli. Keasrian yang ditampilkan desa ini menunjukkan lingkungan desa  sangat sedikit tersentuh oleh alam modernisasi, dengan kondisi alam serta udara yang sejuk pada ketinggian 700meter diatas permukaan laut memberikan kenyamanan kepada penduduk setempat.

Nama Penglipuran menurut cerita para sesepuh desa diambil dari kata “Pangeling pura” yang artinya ingat kepada leluhur.  Cerita ini dikaitkan dengan hijrahnya leluhur masyarakat Bayung Gede di wilayah Kintamani ke Desa Penglipuran sampai saat ini.  Untuk mengingat hal itu maka dibangunlah tempat persembahyangan yang fungsinya sama dengan tempat persembahyangan yang terdapat di Desa Bayung Gede.   Cerita lain mengatakan bahwa kata Penglipuran berasal dari kata Penglipur yang berarti menghibur, karena pada jaman kerajaan desa ini sering dijadikan tempat untuk menghibur diri.

Keteraturan pola pemukiman di Desa Penglipuran yang membujur dari arah utara ke selatan yang semakin keselatan datarannya semakin merendah dalam dua lajur memberikan kesan desa yang sangat indah dan asri.  Letak pintu masuk ke pekarangan yang saling  berhadapan antara satu lajur dengan dipisahkan oleh jalan utama desa menambah keteraturan letak bangunan desa Penglipuran.  Bahan bangunan kecuali bale dauh tempat tinggal keluarga disamping memakai kayu didominasi oleh bahan dari bamboo, karena disekitar Desa Penglipuran merupakan penghasil bamboo.  Dengan pola budaya yang sangat spesifik seperti pola menetap dan arsitektur bangunan tradisional, lingkungan yang asri Desa Penglipuran menawarkan sesuatu yang lain bagi wisatawan yang berkunjung.

Trunyan

trunyanDesa Trunyan merupakan bagian dari kecamatan Kintamani, yang letaknya di Tepi danau Batur atau di kaki sebelah barat Gunung Abang. Penduduk Desa Trunyan adalah keturunan masyarakat bali asli (Bali Age) dengan aspek kebudayaan yang unik. Untuk mencapai Lokasi desa ini dapat dicapai dengan menggunakan boat menyeberangi Danau Batur kurang lebih 30 menit.

Nama desa Trunyan berasal dari kata “Taru dan Menyan” pohon berbau harum yang tumbuh di Desa itu yang diyakini mampu menghilangkan bau mayat orang  meninggal  yang diletakkan diatas kuburan terbuka dibawah pohon pohon tersebut dengan wajah terbuka hanya memakai kain putih dan dipagari “ancak saji” Cara penguburan seperti itu disebut “MEPASAH”