• Blog Stats

    • 99,427 hits
  • Masukkan email anda dan dapatkan informasi tentang lowongan kerja di Bali setiap harinya.
    Ayo...buruan gabung!!

    Join 468 other followers

Serangan Ulat Bulu Meluas Setelah Buleleng, Kini Denpasar

Setelah Buleleng, hama ulat bulu kini muncul di Denpasar. Ratusan ulat bulu ditemukan di Jalan Siulan, Gang Raflesia, Banjar Laplap Tengah, Desa Penatih Dangin Puri, Denpasar Timur, Senin (11/4) kemarin.
Pantauan Bali Post di lokasi menunjukkan keberadaan ulat bulu ini tidak hanya di pohon waru dan sandat, juga banyak menempel di tembok-tembok rumah penduduk. Seperti tembok rumah milik I.B. Sugamia. Munculnya ulat ini sejak empat hari lalu. ”Akibat dari serangan ulat ini, pohon yang ditempati ulat ini akhirnya mati,” ujar istri I.B. Sugamia.

Di sebelah rumah Sugamia, rumah No. 124, juga terlihat banyak ulat bulu. Menurut pemilik rumah, jumlahnya sampai puluhan. ”Kemarin sore nempel di tembok, mungkin ada lebih dari 60 ekor. Langsung saya semprot dengan cairan pembasmi nyamuk,” kata pemilik rumah.

Kades Penatih Dangin Puri Wayan Santa mengatakan kondisi ini tidak separah sebagaimana yang terjadi di Jawa. Mungkin karena sudah musim. Sebenarnya keberadaannya sudah ada sejak dulu, karena musim, dia muncul lagi. ”Mungkin karena kasus yang terjadi di Jawa, sehingga warga sedikit resah dan waswas,” kata Santa.

Camat Dentim I.B. Alit menegaskan pihaknnya yakin ini tidak ada hubungannya dengan hama ulat bulu yang ada di Jatim. Alasannya, di Bali pada masa sekarang ini, ulat bulu ini memang muncul dengan populasi yang lebih banyak.

Untuk memastikan keberadaan ulat bulu ini, tim dari Balai Proteksi Tanaman Pangan Terpadu dan Hortikultura (BPTPH) Provinsi Bali datang ke lokasi. Petugas langsung mengambil sampel sejumlah ulat bulu yang kemudian dimasukkan ke dalam kotak plastik. ”Untuk selanjutnya akan kami periksa di laboratorium. Apakah jenisnya sama dengan yang ada di daerah lain. Setelah itu baru bisa diketahui metode pembasmiannya,” ucap petugas tersebut.

Saat bersamaan petugas dari Dinas Pertanian Denpasar juga datang untuk melakukan penyemprotan dengan Manuver 400 SL. ”Ini penyemprotan tahap awal, bila besok tidak mati, dosisnya akan kami tambah,” ujar seorang petugas.

Informasi lain juga menyebutkan selain di Dentim, hama ulat bulu ini menyerang Kecamatan Denpasar Utara, tepatnya di Perumahan Nindya Indah, Jalan Seroja.

Serangan ulat bulu tampaknya juga sampai di Gianyar. Pohon mangga milik salah seorang warga di kawasan BTN Tojan, Desa Pering, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar diserang ulat bulu. Bahkan, ulat bulu ini sempat menyebabkan salah seorang warga gatal-gatal.

Informasi di lokasi Senin kemarin, kemunculan ulat bulu ini pertama kali diketaui warga, Minggu lalu sekitar pukul 08.00 wita. Waktu itu seorang warga Putu Eka Darmadi (28) asal Banjar Tojan Tegal, Desa Pering mengeluh menderita gatal-gatal. Seluruh tubuhnya sampai bengkak karena gatal. Anehnya, hal itu terjadi setelah korban selesai mandi.

I Made Sumarjaya (58) yang melihat anaknya mengalami gatal-gatal mencoba menelusuri penyebabnya. Hingga akhirnya ditemukan banyak ulat bulu yang merayap di tembok rumah dan tempat jemurannya. ”Beruntung gatal-gatal itu bisa hilang setelah diberikan minyak dicampur bawang merah,” jelas Sumarjaya.

Ulat bulu itu kemudian ditelusuri kembali, dan ditemukan bersumber dari pohon mangga dari sebuah rumah kosong di BTN Tojan (kompleks TNI). Keberadaan pohon mangga itu bersebelahan dengan kamar mandi dan tempat jemuran dari Sumarjaya. Banyak ulat bulu di pohon mangga tersebut, dan menyebar hingga ke rumahnya.

Berdasarkan pengamatan, jenis ulat bulu ini beraneka macam. Warna bulunya berbeda-beda. Mulai dari hitam kekuningan, hitam kemerahan, dan ada pula yang mirip tanduk dengan ukuran yang berbeda-beda. (Balipost)

Masalah Sampah Potensial Jadi ”Bom Waktu” bagi Bali

Masalah sampah sepertinya tidak pernah tuntas. Walau sudah ditangani petugas DKP, tetap saja ada keluhan yakni banyak onggokan sampah tidak diangkut. Saat ini Bali memproduksi sampah sampai 5.094 meter kubik per hari dan belum semuanya bisa ditangani. Bila tak dikelola dengan baik, sampah potensial menjadi ”bom waktu” bagi daerah ini.

Persoalan sampah bagi Bali sudah sejak lama. Apalagi dengan perkembangan jumlah penduduk di daerah ini meningkat cukup tajam, dipastikan produksi sampah makin membeludak.

Saat ini, sejumlah tumpukan sampah tampak menggunung di berbagai lokasi karena daya angkut armada sampah yang terbatas. Sisi lain, kebiasaan masyarakat membuang sampah sembarangan juga tetap berlanjut. Potensi persoalan sampah jadi bom waktu yang siap meledak setiap saat makin besar, mengingat reaksi penolakan dari masyarakat mulai bermunculan begitu di wilayahnya direncanakan akan dibangun tempat pembuangan akhir (TPA).

Dihubungi Senin (11/4) kemarin, Kepala Badan Lingkungan Hidup Provinsi Bali Ir. A.A. Gede Alit Sastrawan, M.T. tidak menampik persoalan sampah berpotensi jadi bom waktu bagi Bali. Dikatakannya, perilaku sebagian masyarakat Bali yang cenderung konsumtif turut membengkakkan volume sampah di Bali. Sebagai gambaran, saat ini volume sampah di daerah perkotaan di Bali rata-rata mencapai 5.094 meter kubik per hari. Tentunya, tumpukan sampah yang volumenya mencapai ribuan meter kubik per hari itu memerlukan tempat pembuangan akhir yang cukup luas jika ingin tertangani secara baik ditambah ketersediaan armada pengangkut sampah dalam jumlah yang tidak sedikit. Harus diakui, belum seluruh sampah yang diproduksi oleh masyarakat Bali dapat ditangani secara tuntas.

”Oleh karena itu, partisipasi segenap komponen masyarakat Bali dalam penanganan masalah sampah bersifat mutlak jika tidak ingin bom waktu itu benar-benar meledak,” katanya mengingatkan.
Dikatakannya, bukan perkara mudah untuk membangun TPA baru lantaran terganjal keterbatasan lahan maupun reaksi penolakan dari masyarakat. Alit Sastrawan meminta masyarakat Bali lebih bijaksana dalam menangani sampah. Ditegaskan, masyarakat wajib memiliki kesadaran dan tanggung jawab yang besar terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan. Secara sederhana, masyarakat diharapkan membuang sampah pada tempat-tempat yang telah disediakan. Hal itu akan mempermudah petugas kebersihan ketika memungut dan mengangkutnya ke TPA.

”Tak kalah pentingnya, masyarakat harus membangun kesadaran untuk mengurangi volume sampah yang diproduksinya setiap hari seoptimal mungkin. Jika setiap keluarga memiliki kesadaran seperti itu, tentunya tumpukan sampah yang saat ini terlihat menggunung di mana-mana dapat ditekan seminimal mungkin,” katanya.

Dalam konteks mengurangi volume sampah itu, pejabat asal Bangli ini meminta masyarakat mengimplementasikan prinsip 3R yakni reduce (mengurangi pemakaian benda-benda yang menghasilkan sampah), reuse (memakai kembali benda-benda sehingga tidak langsung dibuang dan jadi sampah) dan recycle (mendaur ulang sampah menjadi benda-benda yang bisa digunakan kembali). Dikatakan, dalam pengimplementasian prinsip 3R ini kegiatan pemilahan antara sampah organik dan anorganik merupakan kunci sukses. Sayang, pelaksanaan prinsip kelola sampah dengan 3R ini belum jadi budaya dan kebiasaan orang kebanyakan. ”Kesadaran inilah yang perlu terus-menerus dibangun di masyarakat. Salah satu kendala utama penyebab rendahnya tingkat guna ulang, daur ulang dan pemanfaatan sampah adalah masyarakat Indonesia tidak terbiasa memilah sampah, baik di sumber maupun di tempat penampungan sementara,” katanya.

Terkait pengelolaan sampah di Indonesia, katanya, pemerintah sudah menetapkan Undang-undang Nomor 18 Tahun 2008 yang mengubah paradigma menjadi pengurangan di sumber (reduce at source) dan daur ulang sumber daya (resources recycle).

Dikatakan, tiga aktivitas utama dalam penyelenggaraan kegiatan pengurangan sampah yaitu pembatasan timbunan sampah, pendauran-ulang sampah dan pemanfaatan kembali sampah. Ketiga kegiatan tersebut merupakan perwujudan dari prinsip pengelolaan sampah yang berwawasan ingkungan. Kegiatan pengurangan sampah itu juga bermakna agar seluruh lapisan masyarakat, baik pemerintah, kalangan dunia usaha maupun masyarakat luas melaksanakan ketiga kegiatan tersebut melalui upaya-upaya yang cerdas, efisien dan terprogram.

Gubernur Bali Made Mangku Pastika menyatakan pihaknya telah menyusun peraturan daerah atau perda tentang sampah. ”Saat ini kami sedang menyusun perda sampah. Payung hukumnya harus ada dulu. Ini sudah kita lakukan sejak satu tahun lalu. Menyusun perda itu tidak bisa cepat-cepat, banyak hal yang harus dikaji,” jelasnya.

Dengan adanya perda yang khusus mengatur tentang sampah ini, Bali diharapkan akan menjadi provinsi yang bersih dan hijau seperti slogan Bali Clean and Green, yang menjadi target Pemerintah Provinsi Bali ke depan.

Kepala Biro Humas Pemprov Bali Putu Suardhika mengatakan, sampah yang dihasilkan dari Denpasar, Badung, Gianyar dan Tabanan mencapai 800 ton per hari kini diolah menjadi pembangkit sumber energi lsitrik di Instalasi Pengolahan Sampah Terpadu (IPST) Sarbagita (Denpasar, Badung, Gianyar dan Tabanan) di Suwung, Denpasar. ”Ini salah satu upaya kami dalam mengatasi sampah yang berlimpah,” ucapnya.

IPST Sarbagita ini juga membuktikan bahwa sampah ternyata juga memiliki nilai ekonomi cukup tinggi jika mampu diolah dengan baik. Sampah tidak hanya dapat dijadikan pupuk kompos, tetapi juga dapat diolah menjadi energi pembangkit listrik. (Balipost)

Bupati Buleleng: Bangkitkan Potensi Budaya Bali Utara

Singaraja, Bupati Buleleng, Putu Bagiada, mengatakan Kabupaten Buleleng memiliki banyak potensi seni dan budaya terpendam. Potensi ini jika diangkat dan digarap serius akan menjadi faktor pendukung untuk memajukan dunia pariwisata di wilayah Bali utara.

“Salah satu potensi seni budaya terpendam yang dimiliki Buleleng adalah tradisi ‘Dawang-Dawang’. Ini merupakan bentuk seni budaya asli Buleleng yang perlu kita lestarikan agar tidak punah,” kata Bagiada belum lama ini.

‘Dawang-Dawang’ merupakan suatu bentuk seni tradisi asli Buleleng yang biasa digunakan pada saat prosesi upacara Ngaben di Buleleng. Namun seiring perjalanan waktu, tradisi unik ini perlahan hilang karena dianggap tidak praktis dan berbiaya tinggi.

“Oleh karena itu dalam pembukaan pesta seni tahun ini ‘dawang-dawang’ ini kita bangkitkan lagi dalam bentuk pawai. Dengan pawai ini kita berharap masyarakat tidak melupakan tradisi asli Buleleng ini,” kata Bagiada.

“Lewat pelestarian seni dan budaya asli Buleleng ini, kita juga berharap dapat membawa dampak positif bagi perkembangan dunia pariwisata di Buleleng,” imbuhnya. (Beritabali.com)

Hama Ulat Bulu, Distanak Lakukan Penyemprotan dan Penakikan

Singaraja, Serangan hama ulat bulu yang mulai meresahkan warga di Buleleng mulai mendapat penanganan secara serius. Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Buleleng bersama warga melakukan pola penyemprotan dan penakikan untuk memusnahkan ulat bulu yang telah menyerang pohon mangga.

Penyemprotan dilakukan hampir serentak di sejumlah desa yang terkena hama ulat bulu termasuk wilayah yang rentan dengan serangan ulat bulu. Petugas langsung menyemprot pohon mangga dari daun hingga batang utama.

“Penyemprotan yang dilakukan menggunakan insektisida yang bertujuan unruk membunuh langsung ulat bulu yang berada di pohon mangga, sehingga populasi ulat bulu yang rata-rata mencapai 700 hingga 300 telur dapat diatasi,” ungkap Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Buleleng, Putu Merthajiwa, Selasa (12/4).

Saat dilakukan penyemprotan mengunakan insektisida, petugas dilengkapi dengan penutup wajah dan kepala untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan karena sifat racun pada insektisida tersebut kental dan sistemik.

Selain melakukan pola penyemprotan, dalam menghadapi serangan hama ulat bulu, Distanak Buleleng juga menerapkan pola penakikan. Caranya dengan melobangi batang pohon mangga kemudian memasukan cairan insektisida di dalam lubang tersebut.

”Kedua cara kita lakukan, namun yang lebih efektif dengan pola penakikan, dimana insktisida yang dimasukkan ke dalam batang langsung masuk melalui pembuluh tanaman hingga ke bagian daun yang menjadi makanan ulat bulu tersebut,” papar Merthajiwa.

Selain melakukan pola penyemprotan dan penakikan, Distanak Buleleng juga memperdayakan sejumlah petugas Penyuluh Pertanian Lapangan di 148 Desa dan Kelurahan dengan melakukan pemantauan dan pengamatan secara langsung di masing-masing wilayah kerjanya. (Beritabali.com)

Jazz Tabrak Pohon, 1 Tewas, 2 Luka-Luka

Tabanan, Mobil Jazz DK 1412 IC yang dikemudikan oleh I Nyoman Arya Tama Susila (40) warga Banjar Pande Desa Tajen, Kecamatan Penebel, Senin dini hari (11/4) menabrak pohon pinggir jalan tepatnya di depan apotek dangin Banjar Sanggulan, Desa Banjar Anyar, Kecamatan Kediri.

Arya Tama Susila diduga mabuk saat mengemudikan kendaraan, sehingga tidak mampu mengendalikan mobil Jazz nya. Akibatnya, satu dari dua rekannya yakni I Putu Eka Saputra (27) meninggal dunia di tempat kejadian perkara (TKP).

Eka Saputra yang juga berasal dari Desa Tajen itu mengalami luka parah. Dari hidung dan mulutnya mengeluarkan darah, leher patah, benjolan pada dahi, robek kepala belakang.

Sementara rekannya yang lain I Putu Agus Adhi Kharisma (25) asal Banjar Tajen Pande, Desa Tajen harus menjalani perawatan di RSUD Tabanan. Ia mengalami luka robek dahi kanan, bibir dan dagunya, Ia juga hingga kini belum sadarkan diri.

Sementara itu Arya Tama Susila mengalami bejol kepala belakang, luka robek tangan kanan, lecet di dada, dan masih tidak sadarkan diri karena pengaruh alkohol. Ia juga masih dirawat di RSUD Tabanan.

Kasatlantas AKP I Nengah Patrem seijin Kapolres Tabanan, Senin (11/4) membenarkan kecelakaan tersebut.

Dikatakannya, sebelum kejadian, mobil Jazz DK 1412 IC yang dikemudikan Arya Tama Susila meluncur dari arah timur menuju barat jurusan Denpasar – Gilimanuk.

Tiba di TKP Arya Tama Susila yang baru saja pulang dari pesiar tidak mampu mengendalikan kendaraanya sehingga oleng ke selatan.

Tak ayal mobil Jazz yang dikemudikan Arya Tama Susila bersama dua rekanya menabrak beberapa pohon. Kendaranya pun ringsek, begitu juga sopir dan dua penumpangnya.

“Satu orang meninggal dunia dalam kecelakaan tersebut, dua luka ringan dan kerugian material mencapai Rp 2 Juta,” jelas Patrem.

Ditambahkannya, penyebab kecelakaan yang terjadi sekitar pukul 02.00 Senin dinihari itu karena pengemudi tidak mampu mengendalikan kedaraanya akibat terpengaruh minuman alkohol. (Beritabali.com)

Ulat Bulu Buleleng Mirip dengan Jawa Timur

Renon, Hingga saat ini dilaporkan hama ulat bulu telah menyebar di 5 desa di Kabupaten Buleleng. 5 desa yang diketahui diserang ulat bulu diantaranya Desa Baktiseraga, Desa Tukadmungga dan Desa Penglatan di Kecamatan Buleleng, Desa Gerokgak Kecamatan Gerokgak dan Desa Sangsit Kecamatan Sawan.

Hasil pengamatan Dinas Pertanian Bali menunjukkan bahwa secara morfologi ulat bulu yang menyerang tanaman di Kabupaten Buleleng memiliki kemiripan dengan ulat bulu di Jawa Timur.

Kepala Dinas Pertanian Bali Putra Suryawan ketika ditemui Beritabali.com di Renon, Senin (11/4) menyatakan hasil pengamatan lapangan menunjukkan hama ulat bulu pada dasarnya sudah lama ada di Bali. Namun saat ini populasinya mengalami ledakan sehingga merugikan petani.

“Hama yang saya amati di lapangan memang sudah ada cuma populasinya sebelumnya tidak seperti ini, tidak eskplosiv dan kemudian perkembangan ulat bulu ini nampaknya kita lihat iklim mendukung, kemudian yang kedua disebabkan oleh habitatnya yang terganggu,” Putra Suryawan.

Suryawan mengakui telah mengirimkan sample ulat bulu ke laboratorium Fakultas pertanian universitas Udayana untuk mengetahui secara pasti morfologi dan spesies dari ulat bulu tersebut.

Selain itu Dinas pertanian Bali juga telah melakukan pengendalian dengan penyemprotan untuk menghindari meluasnya penyebaran ulat bulu tersebut. (Beritabali.com)