• Blog Stats

    • 93,827 hits
  • Masukkan email anda dan dapatkan informasi tentang lowongan kerja di Bali setiap harinya.
    Ayo...buruan gabung!!

    Join 461 other followers

Kabupaten Tabanan

tabananDEMOGRAFI

Kabupaten Tabanan merupakan satu dari kabupaten/1 kota yang bercorak  agraris yang luas wilayah 893,33 Km2 (14,9% dari luas Pulau Bali). Secara administrasi Kabupaten Tabanan terbagi menjadi 10 Kecamatan, 10 Kelurahan, 103 Desa, 66 Lingkungan, 663 Dusun. Pada tahun 2000, penduduknya berjumlah 386.850 jiwa sehingga kepadatan penduduknya adalah sekitar 453 jiwa/km². dan laju pertumbuhan  0,17%.  Sebagai daerah agraris maka mata pencaharian utama penduduknya adalah sektor pertanian yaitu sebesar 50,16%, sedangkan sektor perdagangan, hotel dan rumah makan merupakan mata pencaharian terbesar kedua dengan prosentase 15,16%, selebihnya bergerak disektor industri rumah tangga dan pengolahan sebesar 11,27% dan sektor jasa 10,93%.

GEOGRAFIS

Kabupaten Tabanan terletak pada posisi yang cukup strategis karena  berbatasan dengan Kabupaten Badung di sebelah Timur, sedangkan di Utara  berbatasan dengan Kabupaten Buleleng, di sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Jembrana dan sebelah Selatan berbatasan dengan Samudra Indonesia.

INDUSTRI & KERAJINAN

Keramik :

industri kecil / kerajinan keramik merupakan komoditi andalan kabupaten Tabanan industri ini berkembang di Desa Pejaten, kecamatan Kediri, kabupaten Tabanan, ± 12 kilometer sebelah Selatan kota Tabanan.Pada mulanya sebelum kerajinan keramik berkembang mulai dengan industri pengolahan tanah liat/gerabah dengan produk yang dihasilkan seperti : periok, belanga, peralatan dapur lainnya.

Kerajinan Besi Logam :

Produk andalan lainnya selain keramik dari kabupaten Tabanan adalah kerajinan dari besi. Kabupaten Tabanan merupakan sentra terbesar kerajinan besi di daerah Bali oleh karena hampir seluruh produk kerajinan besi yang ekspor dari Bali disuply oleh pengrajin besi dari Kabupaten Tabanan. Dengan didukung oleh Bali sebagai daerah tujuan wisata terbesar di Indonesia produk kerajinan besi/logam ini berkembang sangat pesat bahkan menyebar sampai ke pelosok pedesaan di Kabupaten Tabanan.

Kerajinan Kayu :

Produk kerajinan kayu merupakan produk keperluan rumah tangga dan dekorasi seperti meja, kursi, kusen jendela, sanggah, pintu ukir dan lain-lain, namun dalam perkembangannya sampai saat ini telah muncul produk-produk untuk dekorasi yang dikenal dengan “Pop Art”  seperti patung asmat, topeng dan lain-lain.

Dengan didukung oleh tersedianya bahan baku berupa kayu Albesia yang cukup banyak, diharapkan kerajinan kayu untuk keperluan dekorasi tersebut dapat berkembang dengan baik di masa yang akan datang.

Kerajinan Batok Kelapa :

Kerajinan Batok Kelapa dengan produk utama berupa   tempat lilin, teko, cangkir, sendok dan lain-lain. Daerah pemasarannya hampir seluruhnya untuk pasaran ekspor dengan tujuan Jepang, Australia, Amerika Serikat dan lain-lain.

Kabupaten Tabanan sebagai daerah agraris dengan hasil kelapa yang cukup banyak merupakan potensi yang sangat bagus dalam penyediaan bahan baku kerajinan batok kelapa, dimana para perajin dituntut untuk mampu menciptakan produk dengan memadukan potensi alam dengan keterampilan yang dimiliki.

Anyaman :

industri kerajinan anyaman yang berkembang di kabupaten Tabanan antara lain anyaman bambu, anyaman lontar, anyaman pandan, kertas telek, anyaman ate dan lain-lain. Kerajinan anyaman dengan komoditi yang awalnya  untuk keperluan adat dan upacara keagamaan sekarang sudah berkembang menjadi ekspor khususnya ke negara Jepang, yang berupa anyaman pandan dengan produk yang hasilnya seperti tas, tempat tissue, tempat sampah dan  lain-lian.

POTENSI KEPARIWISATAAN.

Potensi kepariwisataan di kabupaten Tabanan sangat besar dan potensial, dimana sebagian besar masih dalam keadaan seperti aslinya.  Dalam setiap pembangunan dan pengembangan obyek pariwisata diusahakan agar tidak merusak lingkungan dan sesuai dengan keadaan alam sekitarnya.  Beberapa jenis obyek kepariwisataan yang ditawarkan Tabanan antara lain seperti:

WISATA PEGUNUNGAN

Kabupaten Tabanan dengan daerah pegunungan pada bagian utara yang memiliki daya tarik yang luar biasa bagi wisatawan yang menyukai keindahannya seperti danaunya dan juga pemandangan alam yang ditawarkan.  Lokasi obyek wisata pegunungan seperti daerah Bedugul dengan didukung fasilitas yang cukup memadai seperti penginapan dan restaurant yang representative dan lokasinya yang sangat mudah dijangkau dengan kendaraan pribadi maupun umum.

WISATA PERTANIAN

Daerah Tabanan adalah derah yang sangat subur, dengan kondisi sawahnya yang berundak-undak yang sangat indah untuk dipandang, serta disepanjang jalan dari pantai sampai ke pegunungan terbentang perkebunan seperti Kebun kopi, cengkeh, vanili, kelapa, sayur-sayuran dan juga kebun bunga.  Hal ini sangat potensial ditawarkan untuk wisatawan yang ingin menikmati wisata pertanian.

WISATA PANTAI

Kabupaten Tabanan meiliki pantai sepanjang kurang lebih 30 kilometer, dengan keadaan pantai yang bermacam-macam mulai dari yang curam sampai yang landai dengan pasir berwarna hitam.  Beberapa pantai yang mulai banyak dikunjungi dan sedang dikembangkan menjadi daerah obyek wisata seperti pantai Soka, pantai Pasut, Pantai Kelating, Pantai Suraberata serta Tanah yang sudah dikenal di Manca Negara.

WISATA PURI

Beberapa Puri yang ada di kabupaten Tabanan saat ini telah dijadikan sebagai obyek wisata seperti Puri Anyar dan Puri Gede di Kerambitan yang merupakan puri kuno yang artistic.  Beberapa atraksi yang ditawarkan seperti Joged bumbung dan tektekan dengan beberapa atraksi yang menarik didalamnya.  Wisata Puri juga menawarkan arsitektur dan sejarah bagi wisatawan, khususnya arsitektur Bali kuno serta sejarah Kerajaan.

Kabupaten Klungkung

klungkungKlungkung adalah kabupaten yang terkecil wilayahnya dibanding dengan kabupaten lainnya di Bali. Klungkung mewilayahi sekitar 315 km2 dengan terbagi menjadi empat kecamatan. Kendati wilayahnya kecil, Klungkung mewilayahi pula gugusan Pulau Nusa yang terdiri dari Nusa Penida, Nusa Lembongan, dan Nusa Ceningan. Berada pada lokasi yang berbatasan dengan Gianyar, Bangli, dan Karangasem, mata pencaharian penduduk Klungkung sebagian besar bertumpu pada bidang pertanian. Sebelum bencana letusan Gunung Agung, daerah Gunaksa bahkan menjadi penghasil beras Bali terbaik bersanding dengan Tabanan.
Melihat dari luas wilayah Kabupaten Klungkung, sulit dipercaya bahwa Klungkung di masa lalu adalah pusat pemerintahan Bali. Bahkan, Bali dikendalikan dari Gelgel Klungkung ketika mencapai jaman keemasan di masa pemerintahan Dalem Batur Enggong sekitar abad 15. Usai pemberontakan Patih Gusti Maruti barulah kemudian pusat pemerintahan dipindahkan ke Klungkung pada masa pemerintahan Dalem Dimade.
Pada masa awal penjajahan Belanda di Bali, Klungkung ketika di bawah pemerintahan Tjokorda istri Kania yang adalah seorang wanita wali raja karena ahli waris Dalem masih belia, keputusan-keputusan untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda ditetapkan melalui kesepakatan paswara astha negara di Klungkung. Takdir tak dapat ditolak, setelah Perang Jagaraga, Perang Buleleng, dan Perang Puputan Badung, tahun 1908 terjadi Perang Puputan Klungkung yang memastikan kekuasaan penuh penjajahan Belanda di Bali sekaligus memutus mata rantai kekuasaan raja-raja di Bali. Walau tak lagi memegang kekuasan pemerintahan secara politis, Ida Idewa Agung Geg, salah satu ahli waris kerajaan yang selamat dari puputan, ditetapkan menjadi Dalem Klungkung.
Berkedudukan sebagai pusat kerajaan di masa lalu, antara lain menyebabkan di Klungkung berkembang cabang seni dan kerajinan yang mengacu pada kehidupan budaya dan agama. Desa Tihingan adalah desa yang sangat terkenal dalam hal industri pembuatan gamelan, Desa Budaga dikenal sebagai pembuat perangkat upacara perunggu dan kuningan, sedangkan Desa Satria dikenal sebagai daerah pengrajin tedung dan perangkat busana pura. Selain itu, Desa Kamasan terkenal dengan lukisan klasik wayang yang tidak semata-mata berupa lukisan namun sarat dengan susastra agama. Desa Kamasan ini, sekitar empat kilometer di selatan Kota Klungkung, dikenal juga sebagai desa pengrajin bokor dan perangkat perak lainnya yang lazim digunakan dalam pelaksanaan upacara.

Kabupaten yang terkecil di Provinsi Bali ini terletak di  antara 115 0 21’ 28” BT – 1150 37’ 43” BT dan 80 27’ 37”  LS – 80 49’ 00” LS, dengan batas-batas wilayahnya adalah sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Karangasem, sebelah utaranya berbatasan dengan Kabupaten Bangli, sedangkan Kabupaten Gianyar di sebelah barat serta Samudera Indonesia membatasi wilayah selatan dari Kabupaten Klungkung.  Kabupaten Klungkung mempunyai luas wilayah 315,00 Km2  atau 31.500 Ha, dimana hanya ± 112,16 Km2 terletak  didaratan Pulau Bali dan sisanya 202,84 Km2 lagi  merupakan daerah kepulauan yaitu Pulau Nusa Penida, Lembongan dan Ceningan. Kabupaten Klungkung berpenduduk 155.679 jiwa yang  terdiri dari penduduk perkotaan adalah 51.452 jiwa dan penduduk perdesaan adalah 104.227 jiwa. Keadaan topografi daerah Kabupaten Klungkung adalah tidak rata dan menunjukkan bukit bergelombang dan diselatannya merupakan dataran rendah. Sedangkan untuk daerah Nusa Penida mempunyai topografi Karst (bukit yang  bergelombang dengan batuannya terdiri dari batu gamping).

KERTAGOSA

Sebagai bekas kerajaan, wajar jika Klungkung mempunyai banyak peninggalan yang saat ini menjadi objek wisata. Salah satunya adalah Taman Gili Kerta Gosa, peninggalan budaya kraton Semarapura Klungkung. Kerta Gosa adalah suatu bangunan (bale) yang merupakan bagian dari bangunan komplek kraton Semarapura dan telah dibangun sekitar tahun 1686 oleh peletak dasar kekuasaan dan pemegang tahta pertama kerajaan Klungkung yaitu Ida I Dewa Agung Jambe.

Kerta Gosa terdiri dari dua buah bangunan (bale) yaitu Bale akerta Gosa dan Bale Kambang. Disebut Bale Kambang karena bangunan ini dikelilingi kolam yaitu Taman Gili. Keunikan Kerta Gosa dengan Bale Kambang ini adalah pada permukan plafon atau langit-langit bale ini dihiasi dengan lukisan tradisional gaya Kamasan (sebuah desa di Klungkung) atau gaya wayang yang sangat populer di kalangan masyarakat Bali. Pada awalnya, lukisan yang menghiasi langit-langit bangunan itu terbuat dari kain dan parba. Baru sejak tahun 1930 diganti dan dibuat di atas eternit lalu direstorasi sesuai dengan gambar aslinya dan masih utuh hingga sekarang. Sebagai peninggalan budaya Kraton Semarapura, Kerta Gosa dan Bale Kambang difungsikan untuk tempat mengadili perkara dan tempat upacara keagamaan terutama yadnya yaitu potong gigi (mepandes) bagai putra-putri raja.

Fungsi dari kedua bangunan terkait erat dengan fungsi pendidikan lewat lukisan-lukisan wayang yang dipaparkan pada langit-langit bangunan. Sebab, lukisan-lukisan tersebut merupakan rangkaian dari suatu cerita yang mengambil tema pokok parwa yaitu Swargarokanaparwa dan Bima Swarga yang memberi petunjuk hukuman karma phala (akibat dari baik-buruknya perbuatan yang dilakukan manusia selama hidupnya) serta penitisan kembali ke dunia karena perbuatan dan dosa-dosanya. Karenanya tak salah jika dikatakan bahwa secara psikologis, tema-tema lukisan yang menghiasi langit-langit bangunan Kerta Gosa memuat nilai-nilai pendidikan mental dan spiritual. Lukisan dibagi menjadi enam deretan yang bertingkat.

Deretan paling bawah menggambarkan tema yang berasal dari ceritera Tantri. Dereta kedua dari bawah menggambarkan tema dari cerita Bimaswarga dalam Swargarakanaparwa. Deretan selanjutnya bertemakan cerita Bagawan Kasyapa. Deretan keempat mengambil tema Palalindon yaitu ciri atau arti dan makna terjadinya gempa bumi secara mitologis. Lanjutan cerita yang diambil dari tema Bimaswarga terlukiskan pada deretan kelima yang letaknya sudah hampir pada kerucut langit-langit bangunan. Di deretan terakhir atau keenam ditempati oleh gambaran tentang kehidupan nirwana. Selain di langit-langit bangunan Kerta Gosa, lukisan wayang juga menghiasi langit-langit bangunan di sebelah barat Kerta Gosa yaitu Bale Kambang. Pada langit-langit Bale Kambang ini lukisan wayang mengambil tema yang berasal dari cerita Kakawin Ramayana dan Sutasoma.

Pengambilan tema yanga berasal dari kakawin ini memberi petunjuk bahwa fungsi bangunan Bale Kambang merupakan tempat diselenggarakannya upacara keagamaan Manusa Yadnya yaitu potong gigi putra-putri raja di Klungkung. Daya tarik dari Kerta Gosa selain lukisan tradisional gaya Kamasan di Bale Kerta Gosa dan Bale Kambang, peninggalan penting lainnya yang masih berada di sekitarnya dan tak dapat dipisahkan dari segi nilai sejarahnya adalah pemedal agung (pintu gerbang/ gapura). Pemedal Agung terletak di sebelah barat Kerta Gosa yang sangat memancarkan nilai peninggalan budaya kraton. Pada Pemedal Agung ini terkandung pula nilai seni arsitektur tradisional Bali. Gapura inilah yang pernah berfungsi sebagi penopang mekanisme kekuasaan pemegang tahta (Dewa Agung) di Klungkung selama lebih dari 200 tahun (1686-1908).

Pada peristiwa perang melawan ekspedisi militer Belanda yang dikenal sebagai peristiwa Puputan Klungkung pada tanggal 28 April 1908, pemegang tahta terakhir Dewa Agung Jambe dan pengikutnya gugur. (Rekaman peristiwa ini kini diabadikan dalam monumen Puputan Klungkung yang terletak di seberang Kerta Gosa). Setelah kekalahan tersebut bangunan inti Kraton Semarapura (jeroan) dihancurkan dan dijadikan tempat pemukiman penduduk. Puing tertinggi yang masih tersisa adalah Kerta Gosa, Bale Kambang dengan Taman Gili-nya dan Gapura Kraton yang ternyata menjadi objek yang sangat menarik baik dari sisi pariwisata maupun kebudayaan terutama kajian historisnya.

Kerta Gosa ternyata juga pernah difungsikan sebagai balai sidang pengadilan yaitu selama berlangsungnya birokrasi kolonial Belanda di Klungkung (1908-1942) dan sejak diangkatnya pejabat pribumi menjadi kepala daerah kerajaan di Klungkung (Ida I Dewa Agung Negara Klungkung) pada tahun 1929. Bahkan, bekas perlengkapan pengadilan berupa kursi dan meja kayu yang memakai ukiran dan cat prade masih ada. Benda-benda itu merupakan bukti-bukti peninggalan lembaga pengadilan adat tradisional seperti yang pernah berlaku di Klungkung dalam periode kolonial (1908-1942) dan periode pendudukan Jepang (1043-1945). Pada tahun 1930, pernah dilakukan restorasi terhadap lukisan wayang yang terdapat di Kerta Gosa dan Bale Kambang oleh para seniman lukis dari Kamasan. Restorasi lukisan terakhir dilakukan pada tahun 1960.

Obyek wisata Kertha Gosa dan Taman Gili (Balai Kambang) pada jaman dahulu merupakan bagian dari puri Semarapura Kerajaan Klungkung yang dibangun pada abad 17. di sebelah barat bangunan ini terdapat sebuah pintu gerbang yang dikenal dengan nama Pemedal Agung adalah merupakan pintu gerbang utama puri Semarapura tersebut.

Ketiga bangunan bersejarah ini berada dalam satu areal yang terletak di jantung kota Semarapura, 40 Km sebelah timur kota Denpasar dan kalau kendaraan dari Denpasar akan menghabiskan waktu kira-kira 1 jam. Dilalui oleh jalur lalu lintas perjalanan wisatawan menuju Besakih, Goa Lawah, Candi Dasa dan dari obyek wisata Kertha Gosa/Taman Gili dapat dilanjutkan ke Desa Wisata Kamasan yang terletak 2 Km ke arah selatan dengan lama jarak tempuh 15 menit, disana terkenal dengan kerajinan perak, ukiran klongsong peluru, emas dan lukisan wayang tradisional.

Disamping itu di sebelah timur kertha gosa/Taman Gili tersedia fasilitas-fasilitas lainnya seperti : parkir, pasar, toko-toko souvernir, kantor telpon, Money Changer dan sebagainya. Di sebelah utaranya berdiri Monumen Puputan Klungkung dan kantor-kantor pemerintah.

Adapun fungsi Kertha Gosa pada jaman kerajaan adalah sebagai tempat berlangsungnya sidang Raja-raja di Bali, namun setelah kerajaan Klungkung jatuh akibat perang puputan Klungkung pada tanggal 28 April 1908, maka Kertha Gosa tidak lagi berfungsi sebagai tempat sidang Raja-raja, tetapi berfungsi sebagai Pengadilan Adat dan Agama. Pada Balai ini terdapat sebuah meja berukir keemasan dan 6 (enam) buah kursi. Pada kursi yang lengannya bertanda singa adalah tempat duduknya Regen (Raja) yang bertindak selaku Hakim Ketua. Kursi yang berlengan lembu adalah tempat duduknya Pendeta sebagai Ahli Hukum serta penasehat Raja di dalam mengambil keputusan. Dan Kursi yang berlambangkan Naga adalah tempat duduknya para Kanca sebagai Panitera. Sedangkan orang-orang yang hendak diadili baik sebagai tergugat maupun penggugat duduk dilantai bersila dalam laku dan sikap santun. Benda-benda tersebut sampai saat ini masih dilestarikan. Sedangkan Taman Gili juga dikenal dengan nama Balai Kambang yang dikelilingi kolam berbunga teratai, melukiskan suatu pulau keindahan dikitari samudera , berfungsi sebagai tempat menjamu tamu-tamu penting yang datang menghadap raja.

Daya tarik khas ketiga bangunan ini ialah karena sebagai peninggalan bersejarah dari kerajaan Klungkung dengan ornamen ukiran-ukirannya yang indah mengagumkan. Selain itu pada bangunan Kerta Gosa dan Taman Gili, pada langit atapnya dihiasi lukisan tradisional Kamasan yang amat artistik, menggambarkan filosofi kebudayaan Hindu. Disamping itu pula Taman Gili/Balai Kambang sebagai satu bangunan beraksitetur tradisional Bali didirikan diatas alas kura-kura raksasa yang disebelah timurnya, diatas tembok kolam yang mengelilinginya berderet patung –patung para Dewata di satu pihak dan para raksasa di pihak lain, masing-masing Kelompok berusaha mendapatkan Amertha Penyubur Kehidupan. Kisah ini sebenarnya merupakan kisah simbolik tentang upaya penstabilan dunia dengan segala kehidupan di atasnya.

Kabupaten Karangasem

karangasemKabupaten yang terletak paling ujung di Pulau Bali ini berada diantara 115 0 23’ 28” BT – 1150 42’ 40” BT dan 80 10’ 00” LS – 80 33’ 00” LS, dimana sebagian besar wilayahnya dibatasi antara lain sebelah utara Laut Jawa, sebelah Timur berbatasan dengan Selat Lombok, sebelah Selatan dibatasi oleh Selat Badung, hanya di bagian barat yang dibatasi oleh daratan Kabupaten Klungkung,  Bangli dan Buleleng.

Kabupaten Karangasem mempunyai luas wilayah 839,54 Km2 atau 83.954 Ha, dengan jumlah penduduk 360.827 jiwa yang terdiri dari penduduk perkotaan adalah 27.495 jiwa dan penduduk perdesaan adalah 333.332 jiwa. Keadaan topografi yang beraneka ragam, mulai dari dataran rendah / pantai dengan ketinggian sampai 100 meter di atas muka laut, sampai dengan daerah perbukitan dan sampai dengan pegunungan. Terdapat dua daerah pegunungan di Kabupaten Karangasem yaitu Gunung Agung dan Gunung Seraya.  Sungai-sungai yang mengalir di Kabupaten Karangasem pada umumnya sebagian besar mengalir sepanjang tahun dan selalu membawa sedimen hasil rombakan dari produk gunung api Gunung Agung seperti pasir, kerikil, Curah hujan rata-rata untuk Kabupaten Karangasem adalah 1.945mm/th.

Geologi daerah tersebut sebagian besar didominasi oleh batuan hasil erupsi Gunung Agung yang penyebarannya antara lain di Besakih, Lebih, Telungbuana hingga sampai Desa pesisir utara seperti daerah Tianyar, Batu Ringgit, Kubu, hingga Tulamben, disamping itu batuan muntahan dari gunung tersebut juga menutupi Amlapura, Ujung, serta Jasri. Sedangkan endapan termuda seperti endapan aluvium terdapat di desa Amed, Bunutan dan Candi Dasa

SEJARAH KARANGASEM

Dalam menguraikan sejarah Kerajaan Karangasem, ada dua buah buku sumber yang dipakai sebagaimana yang ditulis oleh Agung (1991) dan Agung (2001). Nama ‘Karangasem’ sebenarnya berasal dari kata ‘Karang Semadi’. Beberapa catatan yang memuat asal muasal nama Karangasem adalah seperti yang diungkapkan dalam Prasasti Sading C yang terdapat di Geria Mandara, Munggu, Badung. Lebih lanjut diungkapkan bahwa Gunung Lempuyang yang menjulang anggun di timur laut Amlapura, pada mulanya bernama Adri Karang yang berarti Gunung Karang. Pada tahun 1072 (1150 M) tanggal 12 bulan separo terang, Wuku Julungwangi dibulan Cetra, Bhatara Guru menitahkan puteranya yang bernama Sri Maharaja Jayasakti atau Hyang Agnijaya untuk turun ke Bali. Tugas yang diemban seperti dikutip dalam prasasti berbunyi” gumawyeana Dharma rikang Adri Karang maka kerahayuan ing Jagat Bangsul…”, artinya datang ke Adri Karang membuat Pura (Dharma) untuk memberikan keselamatan lahir-batin bagi Pulau Dewata. Hyang Agnijaya diceritakan datang berlima dengan saudara-saudaranya yaitu Sambhu, Brahma, Indra, dan Wisnu di Adri Karang (Gunung Lempuyang di sebelah timur laut kota Amlapura). Mengenai hal ihwal nama Lempuyang adalah sebagai tempat yang terpilih atau menjadi pilihan Bhatara Guru (Hyang Parameswara) untuk menyebarkan ‘sih’ Nya bagi keselamatan umat manusia. Dalam penelitian sejarah keberadaan pura, Lempuyang dihubungkan dengan kata ‘ lampu’ artinya ‘terpilih’ dan ‘Hyang’ berarti Tuhan; Bhatara Guru, Hyang Parameswara. Di Adri Karang inilah beliau Hyang Agnijaya membuat Pura Lempuyang Luhur sebagai tempat beliau bersemadi. Lambat laun Karang Semadi ini berubah menjadi Karangasem.

Sejarah Kerajaan Karangasem tidaklah bisa dilepaskan dengan Kerajaan Gelgel terutama pada masa puncak kebesaran di masa pemerintahan Dalem Waturenggong diperkirakan abad XV. Dalam sejarah, kerajaan Gelgel pertama diperintah oleh putra Brahmana Pendeta Dang Hyang Kepakisan bernama Kresna Wang Bang Kepakisan yang diberi jabatan sebagai adipati oleh Patih Gajah Mada.

Setelah dilantik, beliau bergelar Dalem Ketut Kresna Kepakisan yang berkedudukan di Samprangan pada tahun saka 1274 (1352 M). Dalam pengangkatan ini disertai pula dengan pakaian kebesaran serta keris yang bernama I Ganja Dungkul dan sebilah tombak diberi nama I Olang Guguh. Dalem Ketut Kresna Kepakisan kemudian wafat pada tahun caka 1302(1380 M) yang meninggalkan tiga orang putra yakni I Dewa Samprangan (Dalem Ile) sebagai pengganti raja, I Dewa Tarukan, dan I Dewa Ktut Tegal Besung (Dalem Ktut Ngulesir). Pada saat Dalem Ngulesir menjadi raja, pusat pemerintahan kemudian dipindahkan dari Samprangan ke Gelgel (Sweca Pura). Beliau abiseka Dalem Ktut Semara Kepakisan pada caka 1305 (1383 M). Beliau inilah satu-satunya raja dari Dinasti Kepakisan yang masih sempat menghadap Raja Sri Hayam Wuruk di Majapahit untuk menyatakan kesetiaan. Di Majapahit beliau mendapat hadiah keris Ki Bengawan Canggu yang semula bernama Ki Naga Besuki, dan karena tuahnya juga dijuluki Ki Sudamala.

Dalem Ketut Semara Kepakisan juga sempat disucikan oleh Mpu Kayu Manis. Namun, beberapa tahun lamanya setelah datang dari Majapahit, beliau wafat pada caka 1382 (1460 M), dan digantikan oleh putra beliau bernama Dalem Waturenggong. Beliau ini dinobatkan semasih ayahnya hidup pada caka 1380 (1458 M). Jaman keemasan Dalem Waturenggong dicirikan oleh pemberian perhatian terhadap kehidupan rakyat secara lahir dan batin. Masyarakat menjadi aman, tenteram, makmur, dan kerajaan meluas sampai ke Blambangan, Lombok, dan Sumbawa. Dalam bidang kesusastraan juga mencapai puncak keemasan dengan lahirnya beberapa karya sastra. Keadaan ini mencerminkan bahwa raja memiliki pribadi yang sakti, berwibawa, adil, serta tegas dalam memutar jalannya roda pemerintahan.

Setelah wafat, Dalem Waturenggong digantikan oleh putranya yang belum dewasa yaitu Dewa Pemayun (Dalem Bekung) dan I Dewa Anom Saganing (Dalem Saganing). Karena umurnya yang masih muda maka diperlukan pendamping dalam hal menjalankan roda pemerintahan.

Adapun lima orang putra yang menjadi pendamping raja yaitu putra I Dewa Tegal Besung (adik Dalem Waturenggong) diantaranya I Dewa Gedong Arta, I Dewa Anggungan, I Dewa Nusa, I Dewa Bangli, dan I Dewa Pagedangan. Jabatan Patih Agung pada saat itu dipegang oleh I Gusti Arya Batanjeruk dan semua kebijakan pemerintahan dipegang oleh Patih Arya Batanjeruk. Melihat situasi seperti ini, pejabat kerajaan menjadi tidak puas. Suatu ketika disebutkan kepekaan para pembesar istana saat raja yang masih belia itu dihadap para pembesar. Raja yang masih suka bermain-main ke sana-ke mari selalu duduk di pangkuan Ki Patih Agung. Dalem Pemayun duduk di atas pupu sebelah kanan dan Ida I Dewa Anom Saganing di sebelah kiri. Kemudian kedua raja ini turun lagi dan duduk di belakang punggung Ki Patih. Isu berkembang bahwa I Gusti Arya Batanjeruk akan mengadakan perebutan kekuasaan. Nasehat Dang Hyang Astapaka terhadap maksud ini tidak diperhatikan oleh Ki Patih Agung sehingga kekecewaan ini menyebabkan hijrahnya Dang Hyang Astapaka menuju ke sebuah desa bernama Budakeling di Karangasem.

Kekacauan di Gelgel terjadi pada tahun 1556 saat Patih Agung Batanjeruk dan salah seorang pendamping raja yaitu I Dewa Anggungan mengadakan perebutan kekuasaan yang diikuti oleh I Gusti Pande dan I Gusti Tohjiwa. I Gusti Kubon Tubuh dan I Gusti Dauh Manginte akhirnya dapat melumpuhkan pasukan Batanjeruk. Diceritakan Batanjeruk lari ke arah timur dan sampai di Jungutan, Desa Bungaya ia dibunuh oleh pasukan Gelgel pada tahun 1556. Istri dan anak angkatnya yang bernama I Gusti Oka (putra I Gusti Bebengan, adik dari I Gusti Arya Batanjeruk) serta keluarga lainnya seperti I Gusti Arya Bebengan, I Gusti Arya Tusan, dan I Gusti Arya Gunung Nangka dapat menyelamatkan diri berkat pohon jawawut dan burung perkutut yang seolah olah melindungi mereka dari persembunyian, sehingga sampai kini keturunannya tidak makan buah jawawut dan burung perkutut. I Gusti Oka kemudian mengungsi di kediaman Dang Hyang Astapaka di Budakeling, sedangkan para keluarga lainnya ada yang menetap di Watuaya, Karangasem. Sedikit diceritakan bahwa Dang Hyang Astapaka juga punya asrama di Bukit Mangun di Desa Toya Anyar (Tianyar) dan I Gusti Oka selalu mengikuti Danghyang Astapaka di Bukit Mangun, sedangkan ibunya tinggal di Budakeling membantu sang pendeta bila ada keperluan pergi ke pasar Karangasem.

Pada waktu itu, Karangasem ada di bawah kekuasaan Kerajaan Gelgel, dan yang menjadi raja adalah I Dewa Karangamla yang berkedudukan di Selagumi (Balepunduk). I Dewa Karangamla inilah yang mengawini janda Batanjeruk dengan suatu syarat sesuai nasehat Dang Hyang Astapaka bahwa setelah kawin, kelak I Gusti Pangeran Oka atau keturunannyalah yang menjadi penguasa. Syarat ini disetujui dan kemudian keluarga I Dewa Karangamla berpindah dari Selagumi ke Batuaya. I Dewa Karangamla juga mempunyai putra dari istrinya yang lain yakni bernama I Dewa Gde Batuaya. Penyerahan pemerintahan kepada I Gusti Oka (raja Karangasem I) inilah menandai kekuasaan di Karangasem dipegang oleh dinasti Batanjeruk.

I Gusti Oka atau dikenal dengan Pangeran Oka memiliki tiga orang istri, dua orang prebali yang seorang diantaranya treh I Gusti Akah. Para istri ini menurunkan enam orang putra yaitu tertua bernama I Gusti Wayahan Teruna dan I Gusti Nengah Begbeg. Sedangkan istri yang merupakan treh I Gusti Akah berputra I Gusti Nyoman Karang. Putra dari istri prebali yang lain adalah I Gusti Ktut Landung, I Gusti Marga Wayahan dan I Gusti Wayahan Bantas. Setelah putranya dewasa, I Gusti Pangeran Oka meninggalkan Batuaya pergi bertapa di Bukit Mangun, Toya Anyar. Beliau mengikuti jejak Dang Hyang Astapaka sampai wafat di Bukit Mangun. I Gusti Nyoman Karang inilah yang meggantikan ayahnya menjadi raja (raja Karangasem II) yang diperkirakan tahun 1611 Masehi.

I Gusti Nyoman Karang menurunkan seorang putra bernama I Gusti Ktut Karang yang setelah menjadi raja bergelar (abhiseka) I Gusti Anglurah Ktut Karang (raja Karangasem III). Beliau ini diperikirakan mendirikan Puri Amlaraja yang kemudian bernama Puri Kelodan pada pertengahan abad XVII (sekitar tahun caka 1583, atau tahun 1661 M). I Gusti Anglurah Ktut Karang berputra empat orang yaitu tiga orang laki-laki dan satuperempuan. Putranya yang tertua bernama I Gusti Anglurah Wayan Karangasem, I Gusti Anglurah Nengah Karangasem, I Gusti Ayu Nyoman Rai dan I Gusti Anglurah Ktut Karangasem. Ketiga orang putra inilah yang didaulat menjadi raja Karangasem (raja Karangasem IV/Tri Tunggal I) yang memerintah secara kolektif sebagai suatu hal yang dianggap lazim pada jaman itu. Pemerintahan ini diperkirakan tahun 1680-1705.

Selanjutnya yang menjadi raja Karangasem adalah putra I Gusti Anglurah Nengah Karangasem yaitu I Gusti Anglurah Made Karang (raja Karangasem V). Selanjutnya I Gusti Anglurah Made Karang berputra enam orang, empat orang laki-laki dan dua orang wanita. Salah seorang dari enam putranya yang sulung bernama I Gusti Anglurah Made Karangasem Sakti yang dijuluki Sang Atapa Rare karena gemar menjalankan yoga semadi sebagai pengikut Dang Hyang Astapaka. Dalam keadaan atapa rare inilah beliau menghadapi maut dibunuh oleh prajurit Gelgel atas perintah Cokorda Jambe ketika beliau kembali dari Sangeh.

Diceritakan, atas perkenan Raja Mengwi Sang Atape Rare membangun Pura Bukit Sari yang ada di Sangeh. Sekembalinya dari Sangeh beliau sempat mampir di Gelgel yang pada waktu itu berkuasa adalah Cokorda Jambe. Karena tingkah yang aneh-aneh di istana yang tidak bisa menahan kencing menyebabkan terjadi salah paham, dan dianggap telah menghina raja. Maka setelah keberangkatannya ke Karangasem, beliau dicegat di sebelah timur Desa Kusamba, di padasan Bulatri. sebelum beliau wafat, beliau sempat pula memberikan pesan-pesan kediatmikan kepada putranya yakni I Gusti Anglurah Nyoman Karangasem. Beliau ini kemudian dikenal dengan sebutan Dewata di Bulatri. Peristiwa ini menyebabkan perang antara Karangasem dan Klungkung (Gelgel) yang dikenal dengan pepet (dalam keadaan perang). Setelah gugurnya Cokorda Jambe, maka ketegangan antara Karangasem dan Klungkung menjadi reda.

Tahta di Karangasem kemudian dilanjutkan oleh tiga orang putranya yaitu I Gusti Anglurah Made Karangasem, I Gusti Anglurah Nyoman Karangasem, dan I Gusti Anglurah Ktut Karangasem (raja Karangasem Tri Tunggal II) yang diperkirakan memerintah 1755-1801. Setelah raja Tri Tunggal wafat, pemerintahan Kerajaan Karangasem dipegang oleh I Gusti Gde Karangasem (Dewata di Tohpati) antara tahun 1801-1806. Pada saat ini Kerajaan Karangasem semakin besar yang meluaskan kekuasaannya sampai ke Buleleng dan Jembrana.

Setelah wafat, I Gusti Gde Ngurah Karangasem digantikan oleh anaknya bernama I Gusti Lanang Peguyangan yang juga dikenal dengan I Gusti Gde Lanang Karangasem. Kemenangan Kerajaan Buleleng melawan Kerajaan Karangasem menyebabkan raja Karangasem (I Gusti Lanang Peguyangan) menyingkir dan saat itu Kerajaan Karangasem dikuasai oleh raja Buleleng I Dewa Pahang. Kekuasaan akhirnya dapat direbut kembali oleh I Gusti Lanang Peguyangan. Pemberontakan punggawa yang bernama I Gusti Bagus Karang tahun 1827 berhasil menggulingkan I Gusti Lanang Peguyangan sehingga melarikan diri ke Lombok, dan tahta Kerajaan Karangasem dipegang oleh I Gusti Bagus Karang.

Ketika I Gusti Bagus Karang gugur dalam menyerang Lombok, pada saat yang sama Raja Buleleng I Gusti Ngurah Made Karangasem berhasil menaklukan Karangasem dan mengangkat menantunya I Gusti Gde Cotong menjadi raja Karangasem. Setelah I Gusti Gde Cotong terbunuh akibat perebutan kekuasaan, tahta Karangasem dilanjutkan oleh saudara sepupu raja Buleleng yaitu I Gusti Ngurah Gde Karangasem.

Pada saat Kerajaan Karangasem jatuh ke tangan Belanda pada tanggal 20 Mei 1849, raja Karangasem I Gusti Ngurah Gde Karangasem gugur dalam peristiwa tersebut sehingga pemerintahan di Karangasem mengalami kekosongan (vacuum). Maka dinobatkanlah raja Mataram I Gusti Ngurah Ketut Karangasem sebagai raja di Karangasem oleh pemerintah Hindia Belanda. Setelah berselang beberapa waktu kemudian, raja Mataram menugaskan kemenakannya menjadi raja yaitu I Gusti Gde Putu (Anak Agung Gde Putu) yang juga disebut ‘Raja Jumeneng’, I Gusti Gde Oka (Anak Agung Gde Oka), dan Anak Agung Gde Jelantik.

Setelah masuknya Belanda, membawa pengaruh pula dalam hal birokrasi pemerintahan. Pada tahun 1906 di Bali terdapat tiga macam bentuk pemerintahan yaitu (1) Rechtstreeks bestuurd gebied (pemerintahan langsung) meliputi Buleleng, Jembrana, dan Lombok, (2) Zelfbesturend landschappen (pemerintahan sendiri) ialah Badung, Tabanan, Klungkung, dan Bangli, (3) Stedehouder (wakil pemerintah Belanda) ialah Gianyar dan Karangasem. Demikianlah di Karangasem berturut-turut yang menjadi Stedehouder yaitu tahun 1896-1908; I Gusti Gde Jelantik (Dewata di Maskerdam), dan Stedehouder I Gusti Bagus Jelantik yang bergelar Anak Agung Agung Anglurah Ktut Karangasem (Dewata di Maskerdam) antar tahun 1908-1941.

Demikian sajian ringkas sejarah Kerajaan Karangasem yang dijadikan gambaran umum kajian pokok objek penelitian. Deskripsi historis hal ini sangat penting mengingat dalam mengupas bagian peristiwa yang termasuk rentetan sejarah tidaklah bisa dilepaskan dari rangkaian peristiwa yang terjadi. Sehingga dalam segi manfaat, dimensi waktu akan dapat ditangkap oleh pembaca mengenai kurun waktu peristiwa dimaksud. Demikian pula dalam kajian ini, maka objek penekanannya adalah saat masa raja Karangasem dinasti Tri Tunggal I yaitu I Gusti Anglurah Wayan Karangasem, I Gusti Anglurah Nengah Karangasem, dan I Gusti Anglurah Ktut Karangasem.

Masa Dinasti Tri Tunggal I

Masa kekuasaan Kerajaan Karangasem Tri Tunggal I menjadi sajian yang perlu mendapat pemahaman dalam relevansinya menjabarkan objek penelitian. Ketika pemerintahan Kerajaan Karangasem yang diperintah oleh Tri Tunggal I yaitu I Gusti Anglurah Wayan Karangasem, I Gusti Anglurah Nengah Karangasem, dan I Gusti Anglurah Ktut Karangasem inilah muncul mitologi Pura Bukit sebagaimana diceritakan dalam buku Kupu-Kupu Kuning. Saudara raja Tri Tunggal yang bernama I Gusti Ayu Nyoman Rai diambil menjadi istri oleh Ida Bhatara Gde di Gunung Agung yang kemudian melahirkan Ida Bhatara Alit Sakti yang kini bermukim di Pura Bukit.

Kabupaten Jembrana

jembranaKabupaten Jembrana mempunyai luas 841,80 Km2 atau 84.180 Ha, terletak di antara 114 0 25’ 53” BT – 1140 56’ 38” BT dan 80 09’ 30” LS – 80 28’ 02” LS, terdiri dari 4 kecamatan, dengan batas-batas wilayahnya adalah : sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Tabanan, sebelah utara adalah daerah pegunungan yang berbatasan dengan Kabupaten Buleleng, sebelah selatan Samudera Indonesia, sedangkan sebelah barat adalah Selat Bali. Jumlah penduduk Kabupaten Jembrana adalah 232.733 jiwa yang terdiri dari jumlah penduduk perkotaan adalah 36.073 jiwa dan jumlah penduduk perdesaan adalah 196.660 jiwa.

Topografi daerah Jembrana dapat dibagi menjadi 2 (dua) satuan morfologi yaitu pada bagian selatan / daerah pantai merupakan morfologi pedataran / relatif datar dan semakin keutara kemiringan lahan semakin terjal, bahkan di perbatasan utaranya dijumpai beberapa gunung. Dari luas tersebut di atas, 8.250 Ha digunakan sebagai lahan persawahan, bukan sawah 12.629 Ha, hutan negara 41.809 Ha dan sisanya digunakan untuk perkebunan dan lainnya. Curah hujan rata – rata untuk Kabupaten Jembrana ± 1.868 mm / th.

 

Sejarah Kota Negara

Berdasarkan bukti-bukti arkeologis dapat di interprestasikan bahwa munculnya komunitas di Jembrana sejak 6000 tahun yang lalu. Dari perspektif semiotik, asal-usul nama tempat atau kawasan mengacu nama-nama fauna dan flora. Munculnya nama Jembrana berasal dari kawasan hutan belantara(Jimbar-Wana) yang dihuni raja ular (Naga-Raja). Sifat-sifat mitologis dari penyebutan nama-nama tempat telah mentradisi melalui cerita turun-temurun di kalangan penduduk. Berdasarkan cerita rakyat dan tradisi lisan(folklore) yang muncul telah memberi inspirasi di kalangan pembangun lembaga kekuasaan tradisional (raja dan kerajaan) Raja dan pengikutnya yaitu rakyat yang berasal dari etnik Bali Hindu maupun dari etnik non Bali yang beragama Islam telah membangun kraton sebagai pusat pemerintahan yang diberi nama Puri Gede Jembrana pada awal abad XVII oleh I Gusti Made Yasa (penguasa Brangbang).    Raja I yang memerintah di kraton (Puri) Gede Agung Jembrana adalah I Gusti Ngurah Jembrana.         Tercatat bahwa ada tiga orang raja yang berkuasa di pusat pemerintahan yaitu di Kraton (Puri) Agung Jembrana. Sejak kekuasaan kerajaan dipegang oleh Raja Jembrana I Gusti Gede Seloka, Kraton (Puri) baru sebagai pusat pemerintahan dibangun. Kraton (Puri) yang dibangun itu diberi nama Puri Agung Negeri pada awal abad XIX. Kemudian lebih dikenal dengan nama Puri Agung Negara.

Raja-raja yang memerintah di Kerajaan Jembrana berikutnya pun memusatkan birokrasi pemerintahannya di Kraton (Puri) Agung Negara. Patut dicatat pula bahwa ada dua periode birokrasi pemerintahan yang berpusat di Kraton (Puri) Agung Negara. Periode pertama ditandai oleh birokrasi pemerintahan kerajaan tradisional yang berlangsung sampai tahun 1855. Telah tercatat pada lembaran dokumen arsip pemerintahan Gubernemen bahwa  kerajaan Jembrana yang otonom diduduki oleh Raja Jembrana V (Sri Padoeka Ratoe) I Goesti Poetoe Ngoerah Djembrana (1839 – 1855). Ketika berlangsung pemerintahannya lah telah ditanda tangani piagam perjanjian persahabatan bilateral anatara pihak pemerintah kerajaan dengan pihak pemerintah Kolonial Hindia Belanda (Gubernemen) pada tanggal 30 Juni 1849. Periode kedua selanjutnya digantikan oleh birokrasi modern, melalui tata pemerintahan daerah (Regentschap) yang merupakan bagian dari wilayah administratif Keresidenan Banyuwangi.

Nama-nama yang diwarisi itu telah dipahatkan pada lembaran  sejarah di Daerah Jembrana sejak digunakan sebagai nama Kraton ( Puri ) yaitu Puri Gede / Agung Jembrana dan Puri Agung Negeri Negara. Oleh Karena Kraton atau Puri adalah pusat birokrasi pemerintahan kerajaan tradisional, maka dapat dikatakan bahwa Jembrana dan Negara merupakan Kraton-kraton (Puri) yang dibangun pada permulaan abad XVIII dan permulaan abad XIX adalah tipe kota-kota kerajaan yang bercorak Hinduistik. Jembrana sebagai sebuah kerajaan yang ikut mengisi lembaran sejarah delapan kerajaan (asta negara) di Bali.

Kabupaten Gianyar

gianyarKabupaten Gianyar yang berbatasan dengan Denpasar, Bangli, dan Klungkung, sering ditempatkan sebagai wilayah yang menyimpan sumber inspirasi pengembangan seni budaya. Karawitan, tari, seni kriya, dan berbagai cabang seni lainnya diyakini berkembang dari wilayah Gianyar. Hal ini tak terlepas dari kedudukan wilayah Gianyar di masa lalu sebagai pusat pemerintahan kerajaan saat peralihan sebelum dan awal era Majapahit.

Kawasan Bedahulu dan Pejeng di utara Gianyar tercatat dalam sejarah sebagai pusat pemerintahan sebelum jaman Majapahit sedangkan Samplangan di timur Gianyar adalah pusat pemerintahan saat awal kekuasaan Majapahit merangkul Bali. Di masa-masa penjajahan Belanda dan jaman kemerdekaan, wilayah Ubud, Peliatan, Masa, dan sekitarnya kian kuat mengarah sebagai pusat pengembangan seni budaya. Dapat dipastikan, sepanjang jaman, Gianyar amat lekat bergelut dengan seni budaya.
Dengan luas wilayah meliputi 36.800 ha, dibandingkan dengan Denpasar sebagai kota dagang dengan kepadatan tinggi di pusat kota, kepadatan Gianyar justru mengarah ke daerah pinggir yang merupakan kawasan wisata terutama di daerah Kecamatan Ubud. Di sisi barat Gianyar, yang meliputi kawasan Sayan hingga ke Payangan, telah berkembang menjadi daerah hunian wisata berkelas butik hotel yang mengutamakan privasi sedangkan daerah pusat Ubud berkembang jenis pension dan homestay yang berbaur dengan penduduk asli. Daerah lain di Gianyar, yang bukan merupakan daerah hunian wisata, berkembang menjadi kawasan lain di Gianyar seolah saling dukung dan melengkapi dalam membentuk Gianyar sebagai kota budaya dan pariwisata.

Keadaan Geografis Kabupaten Gianyar

Kabupaten Gianyar terletak antara 08 0 18’ 48” LS – 08 0 38’ 58” LS dan 1150 05’ 29” BT – 1150 22’ 23” BT, dengan luas wilayah 368 Km2 (36.800,00 Ha) atau 6,62 % dari luas  Pulau Bali dengan jumlah penduduk ± 357.741 jiwa yang terdiri dari penduduk perkotaan adalah 43.251 jiwa dan penduduk perdesaan 314.490 jiwa dengan kepadatan penduduk ± 960 jiwa / Km2.   Bagian terluas dari Kabupaten Gianyar ( 25,28 % ) terletak pada ketinggian 250 – 500 meter dari permukaan laut dan terdiri dari 15.227Ha sawah, 16.518 Ha tanah kering dan tanah lainnya berupa hutan/perkebunan, penyangga, jurang, dll.  Dengan curah hujan rata- rata 2.085mm pertahun.

Kabupaten Gianyar merupakan salah satu dari 9 Kabupaten/Kota yang ada di Propinsi Bali. Secara astronomis terletak diantara 8°18°48° dan 8°38°58° Lintang Selatan (LS) dan 115°22°23° Bujur Timur (BT) Wilayah bagian utara dibatasi Kabjupaten Bangli, sebelah Timur Kabupaten Klungkung. Sedangkan bagian selatan dibatasi Kota Denpasar dan bagian baratnya berbatasan  dengan Kabupaten Badung.  Kawasan Pertanian di Wilayah Kabupaten GianyarLuas wilayah Kabupaten Gianyar 368 Km²  atau 36.800 ha tersebar pada 7 (tujuh) Kecamatan.

Secara administrasi Kabupaten Gianyar memiliki 63 Desa dan 6 Kelurahan, banjar Dinas berjumlah 541, dan Desa Adatnya 269 buah serta subak 515 buah. Jumlah penduduk Gianyar tahun 2004 adalah 422.186 jiwa, laki-laki 214.903  jiwa (50,90%) dan perempuan 207.293 jiwa (49,10%) denga tingkat kepadatan 1.147 jiwa/km².

A. Fisiografi

Ditinjau dari segi topografi, maka kemiringan wilayah  Kabupaten Gianyar di Klasifikasikan menjadi 4 katagori yaitu a) wilayah datar (wilayah kemiringan 0-2%)=41,00%; b) wilayah landai (kemiringan 3-15%) = 28,50%; c wilayah miring (kemiringan 16-40%)=15,50% dan d) wilayah  terjal (kemiringan>40%)=15, Dibandigkan kabupaten, lain Gianyar tidak memiliki danau maupun gunung berapi, Beberapa bagian daratan memang  agak tinggi letaknya namun gunung berapi. Beberapa bagian daratan memang agak tinggi letaknya namun lebih merupakan tanah perbukitan. Meskipun demikian, kondisi alam yang dimilikinya cukup menguntungkan.  Sebab dengan tanah-tanah datar yang ada, masyarakatnya sebagian besar bertani dengan memanfaatkan lahan secara maksimal.

B. Sungai

Rata-rata semua Kabupaten di Bali memiliki sungai. Dari  247 buah sungai yang terdapat di bali, 13 di antaranya mengalir di Kabupaten Gianyar. Masyarakat memanfaatkan aliran sungai selain untuk kebutuhan tanah pertanian juga kepentingan lain. Bahkan dengan maraknya perkembangan pariwisata, aliran sungai dimanfaatkan untuk kegiatan wisata. Sungai-sungai yang penting Gianyar adalah Sungai Wos dengan panjang 45,5km, Sungai Petanu (37 km), Sungai Sangsang (36 km), Sungai Yeh Hoo (22 km) Sungai Ayung, Sungai Yeh Embang, Sungai Yeh Mumbul dan Sungai Balian.

 

C. Laut

Kabupaten Gianyar memiliki Panjang pantai seluruhnya berkisaran 20 Km.  Pantai pada umumnya landai kecuali  dibeberapa tempat agak curam karena terjadinya abrasi  tanah sekitarnya. Pantai yang membentang rata-rata berpasir hitam. Masyarakat sekitarnya belum banyak memanfaatkan potensi  laut yang ada.   Sebagian kecil melakukan penangkapan ikan dengan Kawasan Pantai Saba yang menggunakan peralatan yang masih sederhana. Sejumlah pemilik modal mulai mengembangkan lahan sekitar pantai untuk budidaya tambak udang. Meski dalam areal terbatas. Pemanfaatan laut untuk pariwisata mulai dikembangkan seperti selancar di Kawasan Pantai Masceti Keramas. Kebijakan dibukanya wilayah Gianyar bagian timur sebagai kawasan wisata diharapkan dapat lebih memanfaatan potensi pantai

 

PARIWISATA

 

  1. Sebelum Kemerdekaan

Bali sudah dikenal oleh dunia luar sejak ratusan tahun lalu  tetapi bukan sebagai daerah tujuan wisata. Pada abad ke- 7, misalnya orang-orang Cina telah mengenal daerah ini dan memberikan julukan kepada pulau kecil yang kemudian dikenal dengan nama Bali sebagai Dva-pa-tan.  Bali yang  mungil hanya dijadikan tempat transit mencari tambahan logistic buat kapal-kapal layar. Bali bukan tujuan utama atau  tujuan ahir sebuah perjalanan.

Dunia Kepariwisataan Bali baru mulai benar-benar berkembang pada awal abad ke-20, yakni ketika untuk pertama kalinya kapal  api Belanda yang terkenal dengan nama Konninklijk Paketvart Maatschapij (KPM) mengangkut wisatawan mengunjungi Bali melalui pelabuhan Buleleng (Bali Utara). Kapal ini sebelumnya sudah beroperasi sejak ahir abad ke-19, tetapi yang diangkut adalah babi, kopra, kopi bukan wisatawan. Dengan keyakinan bahwa bisnis pariwisata akan berkembang, sekitar tahun 1914 untuk pertama kalinya KPM mengeluarkan brosur pariwisata Bali  yang diterbitkan untuk menarik lebih bannyak lagi minat  wisatawan berlibur kepulau Dewata.

Perhatian untuk mengembangkan kepariwisataan di Bali mulai tampak bersungguh-sungguh dengan didirikannya Bali Hotel tahun 1925 di Denpasar oleh KPM. Dari sinilah kemudian pariwisata Bali dan tentu saja Gianyar berkembang pelan-pelan sampai pada wujud, kemajuan dinamika, dengan segala institusinnya dewasa  ini.   Jika rintisan pariwisata KPM bisa diterima berarti perkembangan pariwisata di daerah ini sudah terjadi jauh sat sebelum Indonesia merdeka tahun 1945. Selain peranana KPM yang  kreatip memerancang, menawarkan dan mempromosikan paket wisata ke bali kepada calon wisatawan mancanegara seperti Amerika, Australia, Inggris.

Salah satu seniman yang peranannya sangat besar dalam membangun citra kepariwisataan Bali pada  umumnya dan Gianyar khususnya adalah Walter Spies (1845-1942)  yang diba di Bali Tahun 1927 dan menetap di Ubud selama lebih  kurang 15 tahun.   Peninggalan Spies berupa bungalow masih ada  sampai sekarang di Hotel Tjampuhan.

Setelah setahun tinggal di Yogya Tjokorda Gde Raka Sukawati dari ubud mengajaknya untuk datang dan tinggal di ubud secara permanent.   Mula-mula Spies tinggal dihalaman depan Puri Saren, Ubud. Sehari-hari dia bermain piano dan keliling desa dengan. Spies memiliki kegemaran berburu kupu-kupu. Dalam berburu dia biasanya ditemani Tjokorda Gde Agung Sukawati. Spies mempunyai  jaringan-jaring (Butterfly net) khususnya dibawa serta ke Bali  untuk menangkap kupu-kupu di bungkus dengan kertas emas dan dikirim ke museum lainnya.

Ketika dua intelektual German, Viktor Baron Von  Plessen dan Dr. Dahlsiem datang ke Bali membuat film berjudul  Island of the Demons (Pulau Raksasa), Spies berkesempatan untuk memasukan segala apresiasinnya tentang Bali secara mendalam. Orang-orang yang kemudian menonton Island of the Demons tentu bisa dikatakan sebagai melihat Bali melalui  persepsi, Visi, atau sudut pandang Spies, Populasi Spies sebagai pelukis dan intlektual yang mengenal Bali secara dekat menundang banyak orang Barat untuk datang ke Bali dan berkunjung ke pondoknnya di Tjapuhan. Andrian Vickers dalam bukunnya Bali Paradise Creatid (1989) menyebutkan bahwa orang-orang yang pernah berkunjung ke Spies adalah Charlie Chaplin, bintang film jenaka Amerika. Selain Chaplin, tamu istimewa Spies yang terkenal adalah Vicki Baum, seorang Novelis wanita produktif yang karya-karyannya dikenal dalam berbagai bahasa       Tidak mengherankan kemudian Spies dijuluki sebagai “the creation of modern Balinese art  (pencipta seni Bali Modern)Di bidang seni lukis, nama Walter Spies tidak bisa dipisahkan dengan Rudolf Bonnet, kolegannya dari Belanda, seorang Guru gambar. Spies dan Bonnet (Pelukis Belanda yang datang di Bali  tahun 1929) melihat perkembangan seni lukis di ubud terancam komersialisasi pariwisata sehingga bersama dengan Tjokorda Gde Agung Sukawati dari Puri Ubud, mereka membentuk organisasi yang disebut Pita Maha tahun 1936 yang berpusat di Ubud. Melalui lembaga inilah seni lukis Bali diberikan nilai yang  sejati dalam menghadapi kecenderungan komersialisasi.

Peranan Spies juga luar biasa dalam proses penulisan buku  Island Of Bali (1937) oleh Miguel Covartubias(1904-1957) yang datang di Bali tahun 1930 dengan kapal pesiar Cingaless Princess dari New York (melalui terusan Suez, Samudra Pasifik, Laut Cina Selatan, Surabaya, lalu masuk Buleleng)” Buku Island Of Bali banyak mempromosikan tradisi seni, dan Budaya Bali dengan segala eksotismenya sehingga secara langsung turut menciptakan citra Bali kepada dunia luar. Sejak pariwisata berkembang tahun 1920-an, jumlah junjungan pelan-pelan bertambah.

B.  Sesudah Kemerdekaan

Bali mempunyai arti besar sekali dalam kejayaan Soekarno, beliau membawa tamu-tamu Negara seperti Nehru, President Kennedy, dan Ho Chi Minh (Vietnam). Dalam kunjungan ke Bali,  Soekarno beberapa kali mampir ke Puri Ubud. Dalam hampir setiap kedatangan mengantar tamu-tamu Negara, Presiden Republik Indonesia yang pertama ini disambut dengan tari-tarian dari ubud atau daerah lainnya di Gianyar. Di daerah Gianyar pula. Soekarno membangun Istana Bogor). Di  Istana Tampaksiring ini terdapat Panggung khusus untuk   pementasan tari-tarian. Selanjutnya perhatian presiden pada kesenian Bali terlihat pada pengiriman tim kesenian Bali pada tahun 1950-an ke luar Negeri, seperti Czechoslowakia, untuk  mempromosikan kebudayaan Bali khususnya dan Indonesia pada umumnya. Seniman-seniman dalam tim kesenian itu adalah dari Gianyar, seperti I Nyoman Kakul, dan I Ketut Rinda.

Pada bulan November 1967, Soekarno datang ke Bali mengantar General; Prasad (Presiden India Waktu itu) dan berkunjung ke Ubud. Sebulan kemudian, Desember 1967, Soekarno mengantar Presiden Tito dan Nyonya ke Ubud. Sebagaimana biasa, Soekarno  membawa Tamu-tamunya ke Ubud. Ketika membawa Presiden Prasad dengan helicopter, atap museum sempat porak poranda di hembus angin. Tamu-tamu Negara yang pernah berkunjung ke Musium Ratna Warta dan Puri Ubud adalah Raja dan Ratu Sirikit (Thailan) Wakil Presiden mesir, Bob Kennedy (Wakil jasa Agung Amerika Serikat), Ratu Belanda tahun 1971, lalu Pangeran Philip. Datang juga mantan Raja dan Ratu Belgia, lalu tahun 1975 datang berkunjung Rockefeller (Wakil Presiden Amerika Serikat) yang terbang dari Singapura ke Bandara Ngurah Rai Denpasar.

Banyaknya kunjungan tamu Negara secara langsung memberikan nilai tambah pada pesona Ubud. Promosi melalui media Massa  yang ditulis oleh wartawan yang mengikuti tamu-tamu Negara itu semakin luas yang akhirnya membuat Ubud yang terkenal sejak  tahun 1920-an melalui intelektual dan sarjana barat menjadi makin terkenal pada Khalayak yang lebih luas. Perkembangan paling mencolok terjadi tahun 1980-an.

C. Pariwisata Gianyar Awal 1990

 

Pesatnya perkembangan kepariwisataan Gianyar pada khususnya, Pemerintah Kabupaten Gianyar mengeluarkan SK nomor 29/1988  tertanggal 10 Februari 1988 tentang pembentukan Dinas  Pariwisata Gianyar. Berdasarkan SK Bupati Gianyar tentang  penetapan Obyek-obyek Wisata Kabupaten Gianyar Nomor 171/1994 tertanggal 5 Mei 1994 tertanggal 5 Mei 1994, Kabupaten Gianyar memiliki 46 Obyek Wisata yang terdiri atas obyek wisata alam,  museum, peninggalan purbakala, pusat kesenian, pusat  kerajinan, dan seterusnya.

Obyek wisata sebanyak itu belum mencakup antraksi wisata, seperti yang berkembang di Gianyar  sejak awal 1990-an, yaitu antraksi wisata arung jeram  (rafting) dan wisata melihat burung (Bali Bird Park).         Sebagian besar  kawasan wisata ini sudah berkembang jauh, sebagian lainnya  mulai tumbuh seperti terlihat dalam masuknya investor  membangun kapasitas kepariwisata di daerah Melinggih Kelod dan Kaja.  Dalam waktu tidak terlalu lama lagi, kawasan wisata yang baru  ini akan berkembang mengikuti perkembangan Ubud, Peliatan, Mas dan sebagainya di kawasan yang sama.

 

D.     Tempat-tempat Menarik (Places of Interest)

Posisi Gianyar sangat strategis sekali baik dilihat secara  geografis maupun dari sudut pandang lalu lintas perjalanan wisata di Bali. Desa-desa kabupaten yang terkenal karena prestasi artistiknya di bidang kerajinan patung, perak, lukisan, kesenian dan sejenisnya terletak di tepi jalan utama Denpasar-Gianyar-Klungkung-Karangasem.Perjalanan dari Denpasar ke ujung timur Pulau Bali atau perjalanan yang datang dari Karangasem ke Denpasar akan melintas daerah-daerah Gianyar.

Wisatawan yang datang ke Bali melalui Bandara Ngurah Rai, akan melihat pesona desa-desa Gianyar di tepi jalan ketika mereka mengikuti trip ke arah timur, sedangkan wisatawan yang masuk ke Bali melalui pelabuhan Padangbai (biasanya wisatawan yang pergi dengan kapal pesiar atau Cruise ship mau tidak mau akan melewati desa-desa seni Gianyar dalam perjalanannya menuju Sanur, Kuta atau Nusa Dua. Setiap desa yang dilalui itu memiliki daya tarik yang khas sehingga dapat disebut sebagai potensi dan daya pikatnya).